Minggu, 22 Desember 2013

Ancaman Bagi Yang Lalai Dari Birrul Walidain

Dicatat oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (4/344),
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، قَالَ : سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ ، عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَوْفَى ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ مَالِكٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : ” مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا ، ثُمَّ دَخَلَ النَّارَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ وَأَسْحَقَهُ “
Muhammad bin Ja’far menuturkan kepadaku, Syu’bah menuturkan kepadaku, ia berkata, Qatadah menyampaikan hadits dari Zurarah bin Aufa, dari Abu Ibni Malik dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:
Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu setelah itu ternyata ia masuk neraka, maka Allah akan masukan ia lebih dalam lagi ke dalam neraka

Derajat hadits

Sanad hadits ini shahih, semua perawinya tsiqah. Dan semuanya merupakan perawi Shahihain kecuali Abu Ibni Malik, namun beliau adalah seorang shahabat Nabi, dan sahabat Nabi itu semuanya adil. Abu Hatim Ar Razi berkata tentang beliau: “lahu shahbah“. Syaikh Al Albani mengatakan: “ia seorang sahabat Nabi, termasuk penduduk Bashrah”. Para ulama memang memperselisihkan nama beliau, dalam sebagian riwayat disebut namanya Abu Ibni Malik, dalam sebagian riwayat lain disebut namanya Malik, atau Ibnu Malik atau Abu Malik (diringkas dari Silsilah Ahadits Shahihah, 2/42-43).

Faidah Hadits

  1. Birrul walidain atau berbakti kepada orang tua hukumnya wajib. Karena jika ditinggalkan Allah mengancam pelakunya dengan ancaman yang keras, yaitu dimasukan ke neraka yang lebih dalam lagi. Selain itu banyak sekali dalil yang memerintahkan untuk birrul walidain, Allah Ta’ala berfirman:
    وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
    Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isra: 23)
  2. Oleh karena itu bagi seorang muslim, berbuat baik dan berbakti kepada orang tua bukan sekedar memenuhi tuntunan norma susila dan norma kesopanan, namun juga memenuhi norma agama, atau dengan kata lain dalam rangka menaati perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam
  3. Hadits di atas, semakna dengan hadits riwayat Muslim, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
    رغمَ أنفُ ، ثم رغم أنفُ ، ثم رغم أنفُ قيل : من ؟ يا رسولَ اللهِ ! قال : من أدرك أبويه عند الكبرِ ، أحدَّهما أو كليهما فلم يَدْخلِ الجنةَ
    Kehinaan, kehinaan, kehinaan“. Para sahabat bertanya: “siapa wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup ketika mereka sudah tua, baik salah satuya atau keduanya, namun orang tadi tidak masuk surga” (HR. Muslim 2551)
  4. An Nawawi menjelaskan hadits Muslim ini: “Para ahli bahasa mengatakan bahwa raghima anfun maknanya kehinaan dan kenistaan, kemurkaan baginya dan ia pantas dipermalukan, yaitu dengan huruf ghain di fathah atau di-kasrah, huruf ra di-dhammah atau di-fathah atau di-kasrah. Kata ini makna aslinya: ‘dilempar hidungnya dengan righam’. Righam adalah pasir yang bercampur dengan kerikil. Sebagian ahli bahasa juga mengatakan bahwa ar ragham adalah segala sesuatu yang mengganggu jika mengenai hidung. Dalam hadits ini adalah anjuran untuk birrul walidain (berbakti kepada orang tua), dan penjelasan tentang betapa besar pahalanya. Artinya, berbakti kepada kedua orang tua ketika mereka sudah tua, dalam bentuk khidmah (bantuan fisik), atau nafkah, atau dalam bentuk lain, merupakan sebab untuk masuk surga. Barangsiapa yang lalai terhadap hal ini maka ia melewatkan kesempatan masuk surga dan ia juga mendapat kehinaan di sisi Allah” (Syarh Shahih Muslim, 1/85).
  5. Hadits ini juga menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah ladang pahala yang besar dan pintu masuk surga. Bahkan ada pintu di surga bagi orang-orang yang berbakti kepada orang tua. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
    الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك البابَ أو احفَظْه
    Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”).
  6. Bentuk durhaka kepada orang tua itu tidak mesti berupa perbuatan jahat, kasar atau kejam kepada orang tua, namun menyia-nyiakan mereka dan tidak berbakti kepada mereka juga merupakan bentuk durhaka kepada orang tua.
  7. Bisa mendapati kedua orang tua kita dalam keadaan hidup sampai mereka tua adalah sebuah kenikmatan besar.

Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

Larangan Terhadap Bid’ah Dalam Al Qur’an

Alhamdulillah washshalatu wassalaamu ‘ala nabiyyihi almukhtar min khalqihi muhammad wa ‘ala alihi wa as-habih wa man tabi’ahu ittiba-an shahihan ikhlashan.
Berbicara tentang bid’ah adalah berbicara tentang sesuatu yang membuat pusing sebagian orang. Artinya mereka begitu alergi dengan kata bid’ah. Perlu dipahami bahwa bid’ah adalah sebuah pembicaraan dalam agama seperti juga pembicaraan tentang syirik, maksiat dan lain-lain.

Bid’ah Tidak Pernah Dibahas Para Ulama?

Seorang mahasiswa LIPIA jurusan Syari’ah pernah menulis artikel dalam sebuah web yang menyatakan bahwa tidak ditemukan kata bid’ah dalam kitab fiqih yang ditulis para ulama. Ia juga merendahkan para ulama yang gencar melarang bid’ah. Ia menulis seolah-olah kata bid’ah bukanlah sebuah tema yang dibicarakan dalam Islam.
Aneh memang. Kitab-kitab yang bertebaran dalam perpustakaan LIPIA plus kemampuan berbahasa arabnya tak mampu memahami bahwa bid’ah adalah sebuah hal yang diwanti-wanti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak pertemuan beliau dengan para sahabat.
Semoga saja tulisan beliau tidak melecehkan ungkapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dengan kelembutannya menasehati umatnya dari bahaya bid’ah. Beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
« أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ »
Kemudian daripada itu, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Al-Qur’an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang baru dan semua bid’ah adalah kesesatan” (HR Muslim no 2042).
Dalam riwayat lain:
وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Dan semua perkara yang baru adalah bid’ah dan seluruh bid’ah adalah kesesatan dan seluruh kesesatan di neraka” (HR An-Nasaai no 1578).
Benar bahwa bid’ah bukanlah bagian dari hukum taklifiyyah yang terdiri dari wajib, mandub, mubah, makruh dan haram (lihat pembagian ini dalam Mulakhhash al-Fiqhiyyah al-Muyassarah (Min Hasyiyatu ar-Raudh wa al-Murabba’ wa Manaar as-Sabiyl), hal 11).
Namun bukanlah bermakna bahwa bid’ah adalah sebuah istilah yang kosong dalam kitab para ulama. Mereka, para ulama, banyak menulis tentang bid’ah dan berbagai kaidah yang berhubungan dengan bid’ah. Mereka pula mewanti-wanti kaum muslimin untuk menjauhi bid’ah karena adalah bid’ah sebuah larangan.

Larangan Berbuat Bid’ah Tidak Ada Dalam Al Qur’an?

Ada pula sebagian penulis yang menyatakan bahwa tidak ada larangan bid’ah dalam al-Qur-an. Padahal para ulama telah banyak ber-istinbath dari sebagian ayat-ayat al-Qur-an mengenai larangan bid’ah. Allah berfirman
قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْكَٰفِرُونَ ﴿١﴾ لَآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ ﴿٦
“1). Katakanlah: Hai orang-orang kafir 2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah 3). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah 4). Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah 5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah 6). Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku” (QS al-Kafirun 1-6)
Salah satu penjelasan Ibnu katsir dalam kitabnya tentang surat ini adalah:
تبرأ منهم في جميع ما هم فيه فإن العابد لا بد من معبود يعبده وعبادة يسلكها إليه فالرسول صلى الله عليه وسلم وأتباعه يعبدون الله بما شرعه ولهذا كان كلمة الإسلام لا إله إلا الله محمد رسول الله أي لا معبود إلا الله ولا طريق إليه إلا ما جاء به الرسول والمشركون يعبدون غير الله عبادة لم يأذن بها الله
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlepas diri dari segala hal yang ada pada mereka (dan apa yang mereka lakoni) karena sesungguhnya seorang hamba beribadah kepada sesuatu yang disembah dan seorang hamba pula menjalani sebuah ibadah menuju Allah. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikut beliau menyembah Allah dengan sesuatu yang memang Allah syariatkan. Inilah makna kalimat Islam yaitu tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah. Ini bermakna bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan pula tiada jalan yang ditempuh menuju Allah kecuali dengan segala hal yang dibawa oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam. Orang musyrik menyembah selain Allah sebagai sebuah ibadah yang tidak Allah izinkan/syariatkan.”( Tafsir al-Qur-an al-Azhiym, jilid 4, hal 3107)
Dalam surat lain, Allah berfirman:
يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج وليس البر بأن تأتوا البيوت من ظهورها ولكن البر من اتقى وأتوا البيوت من أبوابها واتقوا الله لعلكم تفلحون
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung” (QS al-Baqarah: 189.)
Salah satu ungkapan syaikh ‘Abdurrahman ibn Nashir as-Sa’diy mengenai ayat ini adalah:
وهذا كما كان الأنصار وغيرهم من العرب إذا أحرموا لم يدخلوا البيوت من أبوابها تعبدا بذلك وظنا أنه بر فأخبر تعالى ليس من البر لأن الله تعالى لم يشرعه لهم وكل من تعبد بعبادة لم يشرعها الله ورسوله فهو متعبد ببدعة وأمرهم أن يأتوا البيوت من أبوابها لما فيه من السهولة عليه التي هي قاعدة من قواعد الشرع.
“Dahulu orang Anshar dan arab lainnya, jika mereka melakukan ihram, mereka tidak memasuki rumah-rumah mereka melalui pintunya dalam rangka ibadah. Mereka menganggap bahwa hal yang mereka lakukan itu adalah sebuah kebaikan. Allah mengabarkan bahwa yang demikian itu bukanlah sebuah kebaikan karena Allah tidak mensyariatkan hal ini kepada mereka. Setiap orang yang menyembah Allah dengan sebuah ibadah yang tidak Allah dan Rasul-Nya syariatkan maka dia telah beribadah dengan sebuah kebid’ahan. (Dalam ayat ini) Allah memerintahkan mereka agar mereka memasuki rumah mereka melalui pintunya karena ini mengandung kemudahan bagi mereka yang merupakan salah satu kaidah dalam beragama.” (Lihat kitab beliau Tafsir Kariimir Rahman fiy Tafsir Kalaam al-Mannan, hal 87).
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain yang menjadi dalil terlarangnya bid’ah menurut para ulama.

Asrama LIPIA Jakarta, Rabu siang, 15 Shafar 1435 H/ 18 Desember 2013
____
Referensi:
  1. Al-Qur-an dan terjemahannya.
  2. Tafsiyr al-Qur-an al-Azhiym, jilid 4, hal 3107, penerbit Jami’atu Ihya-u at-Turats al-Islamiy, Kuwait
  3. Lihat kitab beliau Tafsir Kariimir Rahman fiy Tafsir Kalaam al-Mannan, hal 87, terbitan Dar Ibnu al-Jauziy, al-Mamlakah al-‘Arabiyyah as-Su’udiyyah.
  4. Mulakhhash al-Fiqhiyyah al-Muyassarah (Min Hasyiyatu ar-Raudh wa al-Murabba’ wa Manaar as-Sabiyl) karya ‘Imad ‘Ali Jum’ah, hal 11, terbitan Maktabah al-Malik Fadh, Riyadh.
Baca juga artikel: Apakah Anda Tidak Takut Berbuat Bid’ah?
______
Penulis: Fachriy Aboe Syazwiena
Artikel Muslim.Or.Id

Jumat, 08 November 2013

Tanda Ikhlas dalam Menuntut Ilmu

Segala puji hanyalah milik Allah Ta’ala, yang seluruh perkara berada di tangan-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Wa ba’du.
Menuntut ilmu adalah sebuah ibadah yang sangat mulia. Ilmu adalah kunci pembuka untuk amalan-amalan lainnya. Karena dengan ilmu, seorang hamba bisa mengetahui bagaimana seharusnya dia beribadah kepada Rabb-nya, mengetahui apa saja kewajiban yang harus ia jalankan, serta mengetahui apa saja larangan yang harus ia jauhi. Oleh karena itulah,  keikhlasan dalam menuntut ilmu adalah suatu hal yang harus terus dijaga oleh kita semua agar ibadah yang sangat mulia ini tidak menjadi debu yang berhamburan di sisi Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlashkan agama kepada-Nya” (QS. Al Bayyinah : 5)
Tanda Ikhlas dalam menuntut ilmu
Keikhlasan dalam menuntut ilmu akan memberikan pengaruh kepada pribadi orang tersebut yang dapat dirasakan oleh orang yang berada di sekitarnya. Di antara tanda-tanda ikhlas dalam menuntut ilmu adalah sebagai berikut :
1- Membuahkan ilmu yang bermanfaat
Tanda paling jelas yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki niat yang benar dalam menuntut ilmu adalah ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ المَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ وَالعُشْبَ الكَثِيرَ
“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah utus diriku dengan membawa keduanya sebagaimana permisalan hujan lebat yang membasahi bumi. Diantara tanah yang diguyur air hujan, ada tanah yang subur, yang menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan yang lebat” (HR. Bukhari)
Seperti itulah permisalan ilmu yang bermanfaat bagi seorang hamba. Ilmu tersebut akan memberikan manfaat kepada pemiliknya khususnya, dengan membuat hatinya semakin lembut, jiwanya semakin tunduk kepada Rabb-nya, lisan dan pandangannya semakin terjaga, dan seterusnya. Tidak hanya itu, manfaat ilmunya juga meluas kepada orang-orang di sekitarnya dengan akhlaknya yang semakin mulia serta ilmu yang telah ia raih ia ajarkan kepada orang-orang di sekelilingnya.
Inilah tanda yang pertama yang menjadi poros bagi tanda-tanda lainnya, ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya.
2- Mengamalkan ilmu
Ilmu dicari untuk diamalkan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala akan bertanya kepada semua orang yang telah belajar, apa yang telah mereka amalkan dari ilmu yang ia miliki?
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ … وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki hamba di hari kiamat sampai ia ditanya,(salah satunya) tentang ilmunya, apa yang sudah dia amalkan?” (HR. Tirmidzi, beliau nilai hasan shahih. Dan dinliai shahih oleh Al Albani)

Ketika seseorang memiliki niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu, maka ia akan mengerti bahwa ilmu yang ia cari bukanlah tujuan akhir, tetapi bekal dia untuk beramal sehingga ia akan berusaha mengamalkan setiap ilmu yang ia miliki. Adapun orang yang niatnya rusak, maka mengamalkan ilmu bukanlah tujuan yang hendak ia capai. Oleh  karena itu, Al Khatib Al Baghdadi rahimahullah mengatakan, “Seseorang tidak dianggap berilmu selama ia tidak mengamalkan ilmunya” (Iqtidhaa-ul ‘Ilmi Al ‘Amal hal. 18, dinukil dari Tsamaratul ‘Ilmi Al ‘Amal, hal. 45)
3- Terus memperbaiki niat
Orang yang merasa telah ikhlas dalam menuntut ilmu merupakan ciri tidak ikhlasnya ia dalam menuntut ilmu. Orang yang ikhlas justru terus memperbaiki dirinya dan meluruskan niatnya dalam setiap amalannya dan tidak merasa dirinya telah ikhlas. Sebagaimana yang dikatakan ‘Amr, “Barangsiapa yang mengatakan dirinya adalah orang yang berilmu, maka dia adalah orang yang bodoh”. Ibnu Rajab mengatakan, “Orang yang jujur akan merasa takut dirinya tertimpa kemunafikan dan takut mengalami su-ul khatimah” (lihat Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf, hal. 30-31)
4- Semakin tunduk dan takut kepada Allah Ta’ala
Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah orang yang berilmu” (QS. Fathir : 28)
Pada ayat di atas Allah menyebutkan bahwa orang yang takut kepada-Nya adalah orang yang berilmu. Oleh karena itu, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin tunduk ia kepada Rabb-nya. Sebagian ulama mengatakan, “Siapa yang takut kepada Allah maka dia adalah orang yang berilmu. Dan siapa yang bermaksiat kepada Allah maka dia adalah orang yang bodoh” (dinukil dari Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf hal. 26).
Ini adalah buah dari ilmu yang bermanfaat, ilmu yang dicari semata-mata karena mengharap wajah-Nya. Seseorang yang telah berilmu tentang Allah, maka ia akan mengetahui keagungan dan kebesaran Rabb-nya sehingga ia akan semakin takut dan tunduk kepada-Nya serta selalu merasa diawasi oleh-Nya.
5- Membenci pujian dan ketenaran
Senang dipuji dan cinta ketenaran adalah awal malapetaka pada diri seorang penuntut ilmu. Tidakkah kita ingat kisah tiga orang yang pertama kali diseret ke dalam neraka? Rasulullah menyebutkan salah satu diantara mereka,
وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
“Seseorang yang menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al Qur’an. Lalu ia didatangkan dan dipaparkan kepadanya segala nikmat yang telah ia raih, lantas ia mengakuinya. Lalu ia ditanya, “Apa yang sudah kamu lakukan terhadap nikmat tersebut?”. Ia menjawab, “Aku menuntut ilmu juga mengajarkannya, aku juga membaca Al Qur’an karena-Mu”. Lalu dikatakan padanya, “Kamu dusta! Kamu itu menuntut ilmu supaya dijuluki sebagai orang yang berilmu! Kamu juga membaca Al Qur’an karena ingin dikenal sebagai qari! Dan kamu pun telah mendapatkannya!”. Lalu orang tadi diseret di atas wajahnya lalu dilempar ke neraka” (HR. Muslim)
6- Semakin tawadhu’ di hadapan manusia
Bagai ilmu padi, ilmu yang bermanfaat yang dicari semata-mata mengharap wajah Allah Ta’ala akan membuat pemiliknya semakin tawadhu’ di hadapan orang lain, tidak merasa lebih hebat dibandingkan orang lain. Ibnu Rajab mengatakan, “Di antara tanda orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat adalah ia tidak memandang dirinya memiliki status atau kedudukan khusus. Hatinya membenci rekomendasi dan sanjungan orang. Ia juga tidak takabbur di hadapan orang lain” (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf, hal. 31)
Nasihat Penutup
Itulah di antara sedikit tanda-tanda lurusnya niat seseorang dalam menuntut ilmu. Sebagai penutup, kami bawakan sebuah nasihat indah dari Imam Al Ghazali rahimahullah teruntuk kita semua. Beliau mengatakanBetapa banyak malam yang telah kau hidupkan dengan mengulang-ngulang ilmu dan membaca berbagai macam buku, dan kau halangi dirimu dari tidur? Aku tidak tahu apa yang memotivasimu untuk berbuat demikian. Jika niatmu adalah karena dunia, karena mencari harta dan mengumpulkan bagian-bagian dunia, atau berbangga-bangga dengan teman sepantaranmu, maka celakalah dan celakalah dirimu! Tapi jika niatmu adalah menghidupkan syari’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, membina akhlakmu, dan mematahkan jiwa yang suka mengajak kepada keburukan, maka beruntunglah dan beruntunglah engkau!” (Ihya ‘Ulumuddin, hal. 105-106, dinukil dari Adabu Thalibil ‘Ilmi, hal. 35)
Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat kepada penulis khususnya dan kepada kaum muslimin umumnya. Hanya kepada Allah-lah kita semua memohon keikhlasan dalam setiap ucapan dan amalan.
Ya Allah, jadikanlah seluruh amalan kami sebagai amalan yang shalih, dan jadikanlah amalan kami tersebut ikhlas mengharap wajah-Mu semata, dan janganlah Engkau jadikan sedikitpun bagian untuk selain diri-Mu dalam amalan kami tersebut. Sesungguhnya Engkau Maha mendengar seruan hamba-Mu.

Referensi :
Hilyah Thalibil ‘Ilmi, Syaikh Bakr Abu Zaid
Bayaanu Fadhli ‘Ilmis Salaf ‘ala ‘Ilmil Khalaf, Ibnu Rajab Al Hanbali
Ma’alim fii Thariqi Thalabil ‘Ilmi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As Sadhan

Yogyakarta, 24 Dzulhijjah 1434
Penulis: Yananto Sulaimansyah
Artikel Majalah Muslim.Or.Id
==========
Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo
==========

Senin, 21 Oktober 2013

TAFSIR SURAH AL-FATIHAH

Tafsir al-fatihah(ayat 1)

Firman Allah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani"
(Surah Al Fatihah : 1)

Tujuan membaca Bismillah adalah untukl menunjukkan bahawa konsep penyertaan qudrah Allah yang menyebabkan qudrat kita terlaksana. Betapa lemahnya kita sehingga setiap perilaku kita sebenarnya adalah daripada qudrah Allah yang maha berkuasa. Disebabkan itulah kita disarankan oleh jumhur ulama' untuk memulakan sesuatu tugasan dengan Bismillah. Sewaktu zaman jahiliyyah, kebanyakkan Quraisy menyertakan perilaku dan sumpah mereka adalah atas nama Hubal, Latta dan Uzza serta Sya'biy sebagai tanda kebanggaan mereka pada tuhan sesat mereka. Islam memberi alternatif kepada umat Islam yang juga ingin mengizahkan tuhan mereka dengan adanya Bismillah pada setiap surah kecuali surah At Taubah. Namun dalam perilaku jahat, kita dilarang membacakan kalimah ini. Kepada sesiapa yang membaca Bismillah semasa membuat kemungkaran dengan tujuan menghina dan mencerca ayat suci maka tiada syak kufurnya itu.

Pertamanya perlu diingatkan bahawa, ulama' khilaf dalam menetapkan Bismillah sebagai salah satu ayat Al fatihah atau pun tidak. Imam syafie mewajibkan bacaan Bismillah dalam solat kerana dinyatakan ayat ini sebhagian surah Al Fatihah. Ini berlainan dengan kaedah solat Imam Hanafi.

Segala perbuatan kita seharusnya dengan diiringi nama Allah. Allah seolah-olah ingin memastikan segala perilaku kita diiringi dengan matlamat ubudiyyah dan uluhiyyah. Lantaran itu kita lihat juga bagaimana berbezanya kitab yang ditulis semula oleh manusia dengan kitrab yang dipelihara iaitu Al Quran. Namun perlu diigatkan bahawa kitab asal samawi yang lain turut ditegaskan bismillah.

Allah memberi kemurahannya kepada semua makhluk di dunia ini. Perlu diketahui kesemua makhluk manusia telah mengakui keimanannya sejak alam lahut dan malakut. Lantaran itu kasih saying Allah pada insan tidak bertepi. Allah terus menunjukkan kemurahan kasihnya. Hal ini menimbulkan polemik dikalangan umat Islam, apabila timbul persoalan 'jadi kafir kaya, jadi miskin papa'. Polemik ini timbul lantaran beberapa aspek yang perlu diambilkira.

Memanglah kita ketahui izzahnya umat Islam diambil dikit demi dikit dengan kalimah isyarat daripada rasulullah iaitu Al Ghussa' (semacam buih). Semanagt umatan wasotan dan khaira ummah kelihatannya dicabut sedikit demi sedikit. Namun perlu diketahui bahawa keadaan sederhana yang ada dalam Islam tidak menggalakkan manusia mengejar menjadi jutawan sehingg memecah rekod jutawan termuda Negara. Berapa sangat jutwan yang kembalikan kekyaan untuk mmasyarakat. Inilah kuasa kapitalis. Memupuk mencari wang dan laba dengan kaedah menindas keringat awam. Nampaknya mereka berusaha tetapi ada kelompok yang tersiksa. Kekayaan ini disebut istidraj.

Dalam surah Al Zukhruf ayat 33, Allah menegaskan sekiranya allah tidak risaukan kesemua manusia menjadi kafir, nescaya dijadikan rumah dan tangga rumah orang kafir daripada perak.

وَلَوْلاَ أَن يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَجَعَلنَا لِمَن يَكْفُرُ بِالرَّحْمَنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفاً مِّن فَضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ

"Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadiumat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagiorang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak)yang mereka menaikinya." (az-Zukhruf : 33)

Bermakna sekiranya kesemua orang kafir Allah jadikan kaya nescaya semua manusia akan berlumba-lumba menjadi kafir!! Bukankah Allah juga memberi kemiskinan kepada non-muslim? Bermakna kata kekayaan amat senang dijadikan kepda manusia. Keraa aliran harta kesemuanya dikawal olehNya. Dia mengkayakan seseorang dengan mengalirkan bahagian orang lain kepada seseorang.

Tetapi ada suatu kasih yang tertinggi. Inilah kasih mengasihani Allah khusus untuk umat muslimin. Kepada keksihnya yang berada di Firdaus kelak dapat menghayati wajah sebenar Allah melalui pemandangan akhirat, bukannya melalui pandangan umum kini yang terbatas kepada sistem penglihatan dimensi.

Maka perlu diingatkan bahawa dengan ayat pertama ini, setiap perkara dilakukan kerana ia mengiringi perilaku degan nilai akidah sebenar. Ulama' usuluddin tradisional berkata keseluruhan intipati Al Quran terpada pada Al fatihah. Kekuatan Al fatihah pula terletak pada ayat Bismillah. Kekuatan ayat ini ialah pada huruf ba' (ب). Huruf ini membawa maksud dengan, pengiringan dan maksud kebersamaan pembacaan Al Quran dan perilaku dengan Nama Allah. Ia juga semacam janji awal pembaca Al Quran bahawa hk cipta (copyright) kalam Al Qadim ini adalah miliknya yang tidak bersekutu.

Tafsir al-fatihah(ayat 2-3)

الحَمْدُ للّهِ رَبِّ العَالَمِينَ(٢)الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ(٣‘Segala puji bagi allah tuhan sekalian alam (2) Yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang (3)’
(Al Fatihah : 2-3)

Ulasan kali ini akan mengupas sekitar persoalan pujian dan sikap pendakwah yang berkasih sayang dan berlemah lembut sebagai salah satu cara untuk mencari sasaran dakwah.

Al Fatihah digelar sebagai ‘Sabu’n Masani’ iaitu tujuh pujian. Segala ayat di dalam Al Fatihah sebenarnya bertujuan memuji diriNya sebanyak 17 kali sehari semalam sebagai kewajipan. Tidak hairanlah Allah memulakan surah ini dengan memuji dirinya sendiri disamping memulakan dengan namaNYa pada ayat pertama.

Persoalan pujian.
Ulama’ Khalaf aliran kalam dalam sebuah kitab (pengarangnya merahsiakan nama) ‘Miftahul Jannah’ menyebut berkenaan pujian kepada Qadim. Puji Qadim bermakna kita memuji Allah yang sediakala dan teragung. Manakala pujian kepada penciptaan manusia dan insan dikenali sebagai pujian makhluk atau pujian Hadis/aradh. Pujian kepada Allah adalah wajar. Manakala pujian kepada makhluk dibenarkan dengan penyertaan pujian kepada penciptanya. Sebagai contoh sekiranya kita menziarahi rumah rakan kita. Kita sejurus akan meuji perabot dan bunga perhiasan dalam rumahnya. Apakah perasaan tuan rumah itu? Tentulah beliau turut merasa gembira dan suka dengan pujian kita walaupun kita hanya memuji peralatannya. Inikan pula Allah yang Maha Pencipta.

Apakah hukum bagi kita memuji manusia? Bolehkah kita selaku pendakwah meminta pujian daripada manusia. Dalam Surah Ali Imran :188 bermaksud

لاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَواْ وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُواْ بِمَا لَمْ يَفْعَلُواْ فَلاَ تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ العَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

‘ Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahawa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahawa mereka terlepas dari siksa dan bagi mereka siksa yang pedih’ (ali-Imran : 188)

Ayat ini sebenarnya diturunkan kepada golongan munafiq dan ahli kitab yang selalu menginginkan perhatian Rasulullah. Kononnya merekalah asal manusia yang berpegang dengan agama tauhid. Mereka mengatakan merekalah yang layak mendampingi Rasulullah dan bukannya golongan penyembah berhala jahiliyyah Quraisy. Inilah antara sebab Abdullah bin Saba’ mengasaskan fahaman Syiah apabila beliau tidak berjaya mendapat perhatian Khalifah Saiyidina Uthman Al Affan.

Walaubagaimanapun kita dibolehkan meraih perhatian masyarakat terhadap organisasi kita. Kerana organisasi Islam adalah lambing dan syiar kemegahan Islam itu sendiri. Memang akan terdapat manusia di dalam jamaah itu yang akan berbangga dan riya’ dengan usahanya, akan tetapi keperatusannya amatlah sedikit berbanding dengan pujian individu.

Bagaimanakah sekiranya kita menunjukkan amal kita agar dilihat orang ramai. Perhatikan surah Al Baqarah ayat 271 ini,

إِن تُبْدُواْ الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الفُقَرَاء فَهُوَ خَيْرٌ لُّكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

‘Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang faqir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebahagian kesalahan –kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan’ (al-Baqarah : 271)

Disini kita melihat A;llah tidak mecela amal yang ditunjuk orang. Tiada seorang manusiapun yang boleh membaca tahap riya’ atau keikhlasan manusia lain. Maka lantaran itulah amal yang dipertontonkan tidak boleh diklasifikasikan sebagai riya’ atau syirik kecil. Bagi penulis, amal yang mewakili organisasi Islam wajar dipertontonkan agar menjadi contoh, syiar dan method dakwah yang efficient. Walaubagaimanapun amalan individu yang selalu dipertontonkan boleh dinasihati dan bukan dihukumi secara wewenang.

Akhlak Pendakwah.
Allah sebagai pencipta manusia amat berkasihan dengan kita. Di sini perlu kita selaku pendakwah memerhatikan seni dalam kita bergaul dengan pelbagai segmen masyarakat. Sikap hilmun (sopan santun) dalam pertuturan orang yang lebih tua, sikap memanja dan mengusap-usap kepala golongan yang muda adalah sikap yang boleh menukar fahaman, hati dan perasaan mad’u.

Kita cukup sedih melihat hari ini pendakwah seolah-olah manager atau pengurus untuk program semata-mata dengan diharapkan manusia akan datang kepadanya menyerah diri untuk Islam. Andaian kolot ini menyebabkan ramai dikalangan pendakwah hanya bergoyang kaki dan tidak proaktif mencari anak usrah, mad’u dan sasaran untuk diceritakan Islam padanya. Allah menggagaskan sikap ‘azillatin a’la Al Mukminin’ iaitu berlembut dengan mukmin. Alangkah bahayanya sikap sesetengah pekerja Islam yang amat memusuhi rakan seanggotanya lebih daripada membenci musuh agama. Alasan mereka adalah mereka membenci dan memulau dngan tujuan berkasih sayang. Allah menggagaskan juga sikap a’i’zzatin a’la Al Kafirin iaitu membenci kepada kafirun. Tetapi adakah perlu kita membenci golongan non-muslim. Persoalan juziyyahnya adalah kita perlu membenci sibghah atau acuan kekufuran seperti sikap sekularisme dan sikap yang menyokong system kemanusiaan yang batil.

Tafsir al-fatihah(ayat 4)

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

" Yang menguasai Hari Agama (pembalasan)"
(Surah Al fatihah : 4)

Pada tafsiran yang lalu telah kita kupas berkenaan kepujian yang patut kita berikan kepada pencipta mayapada ini. Disebutkan juga sikap hilmun dan kasih sayang yang patut ada dalam jiwa penggerak Islam. Kali ini penulis cuba untuk teruskan ulasan berkenaan kekuasaan Allah yang digambarkan pada ayat ke empat ini. Sebelum itu telah kita ketahui segala pujian Al fatihah ini ditujukan khusus kepada Allah tuhan sekalian Alam.

Istilah Rabb digunakan. Istilah ini menunjukkan penguasaan, penciptaan dan pengasuhan allah terhadap makhluknya. Dan sasaran bagi sifat ini adalah A'lam. Perkataan Rabbul Alamin bermaksud sekalian alam dikuasai oleh tuhan yang dinamakan Allah (dalam ayat pertama). Alama-alam yang berkaitan bukan sekadar ekologi dunia, sistem udara dan air tetapi merangkumi alam barzakh, alam lahut, alam malakut (malaikat) dan alam akhirat yang serba hebat. Inilah penguasaanNya. Selepas Allah memuji dirinya dan menyebut pula sikap lemah lembutnya yang berunsur targhib, maka Allah juga menerangkan unsur ancaman dan berjaga-jaga (tarhib) iaitu Dialah penguasa hari pembalasan.

Perkataan Hari Agama (Ad-Din) juga bermaksud

* Ganjaran-ganjaran (Jaza') atau Mukafa'ah
* Taat
* Pencaturan
* Agama
* Perhitungan

Perbahasa Arab 'Kama tadinu, tudanu' iaitu bermaksud Sebagaimana kamu perbuat begitulah pembalasannya. (rujuk Tafsir Al Manar Muhammad Rasyid Redha)

Ulasan Ulama' Qiraat

Ada ulama' yang memebaca Maaliki iaitu mimnya dibaca panjang kerana ianya membawa maksud Raja atau penguasa/pemilik.

Ada ulama' yang membaca Maliki iaitu mimnya dibaca pendek kerana bererti Maha Penguasa. Bacaan ini lebih dalam ertinya dan membawa maksud jelas iaitu Maha Kerajaan, Maha Penguasaan dan Maha Perencana.

Penguasaan Allah walaupun terjurus kepada alam-alam, ia tetap terfakus kepada pengasuhan manusia iaitu khalifah muka bumi. Kerana itulah dalam Surah An Nas perkataan Maliki An Nas dibaca pendek yang memebawa maksud yang Maha Menguasai Bangsa Manusia yang berakal. Tidak pula disebut Maliki Asyaa' (iaitu tuhan Maha Menguasai benda-benda).

Sekitar Kerajaan.

Dihari pembalasan ini Allah akan menyeru kepada semua penguasa-penguasa atau raja-raja manusia agar dibandingkan dengan kekuasaanNya pada hari tersebut. Lantran itu Surah ini adalah umpama tazkirah secara sindiran kepada golongan penguasa agar mengingati hubungan vertikal yang Maha Agung.

Allah amat melaknat golongan pemerintah yang menggunakan kekuasaan mereka untuk menghancurkan manusia yang lemah. Sebagai contoh kemunculan raja-raja Yahudi yang kemudiannya menggunakan kekuasaan untuk menhancur manusia beriman dalam surah Al Buruj ayat 4-7,

قُتِلَ أَصْحَابُ الأُخْدُودِ(٤)النَّارِ ذَاتِ الوَقُودِ(٥)إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ(٦)وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ(٧)

"Binasa dan laknatlah orang-orang yang membuat parit. Yang berapi kayu bakarnya. Ketiak mereka duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka buat terhadap orang-orang beriman".

Sikap perbuatan zalim ini turut dijelaskan oleh Rasulullah dalam beberapa Hadis yang diriwayatkan oleh ulama' Hadis masyur berkenaan Hadis Ghulam (kisah pemuda yang dihukum bunuh). Dalam kisah ini menggambarkan betapa hasadnya golongan taasub yahudi (Bani Israel) terhadap Nabi dan agama Tauhid yang dibawa Oleh Nabi Isa (juga daripada Bani Israel). Kekejaman ini digambarkan dan akan berulang lakunya sehingga kiamat.

Nasihat Kepada Pemerintah.

Nasihat adalah perlu diberikan kepada golongan pemerintah secara berhikmah dan mengikut methodologi zaman. Nasihat juga boleh diberi secara sindiran, dakwah umum atau muwajahah silmiyyah. Para pemerintah memerlukan nasihat yang sesuai dengan statusnya. Bukan semua pemerintah akhir zaman boleh berlapang dada seperti Umar Al Khattab R.A.

Perkataan Nasihat berasal daripada perkataan

'Nasaha Ar Rajulu Saubahu' iaitu seorang lelaki menjahit kainnya. Perkataan Nasaha disini bermaksud menjahit. Jahitan adalah perilaku yang positif dan membawa keuntungan kepada kain yang awalnya tidak cantik sedikit pun. Atau diambil dari perkataan " Nasahtu Al A'sal" iaiti aku menapis manisan. Istilah menapis (Nasaha) membawa erti refining, mencantikknya, memeprhaluskan dan sebagainya yang memebawa erti pembaikkan. Jadi Nasihat yang memebawa madu' lari dari jalan dakwah, nasihat yang tidak berhikmah bukannya mengikuti erti Nasihat sebenarnya. (rujuk Syarah Hadis 40: Mustafa Abdul Rahman).

Ini dilihat bagaimana Sheikh Daud Al Fatani menyelitkan bab Kerajaan dalam kitab terkenalnya berkenaan solat iaiatu Muniatul Musolli. Lihatlah betapa seninya ulama' silam. Mereka memberi ingatan secara hikmah apabila Raja Patani ketika itu meminta beliau menyiapkan risalah berkenaan solat khusus untuk baginda.

Tafsir al-fatihah(ayat 5)

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
"Kepadamulah semata kami beribadah dan kepadamulah sahaja tempat kami memohon pertolongan" (Al Fatihah : 5)

Penegasan Tauhid

Ayat ini merupakan petanda bahawa Al Fatihah menegaskan perihal ubudiyyah dan tauhidnya. Perlu ditegaskan bahawa Surah Al Fatihah adalah konklusi kepada keseluruhan intipati kitab samawi termasuk Al Quran. Antara intipati penegasannya ialah perihal tauhid. Disini kita melihat perkataan na'budu iaitu istilah kami sembah. Terma ini menjelaskan tauhid Rububiyyah. Tauhid ini adalah membuktikan bahawa alam maya ini mempunyai suatu pencipta dan raja segala raja lantaran adanya 'perhambaan' dan golongan 'hamba' tersebut. Manakala penegasan Uluhiyyah terdapat dengan memerhatikan istilah Iyyaka iaitu membawa maksud 'hanya kepada mu semata-mata'. Klausa ini mematikan hujah bahawa diperbolehkan kita beribadah kepada sesiapa sahaja tanpa mengira siapa tuhan kita. Tauhid ini adalah penyucian fikrah kita daripada pergantungan kepada sesiapa sahaja termasuk;

* Malaikat
* Raja/pemimpin manusia
* Jin Islam
* Haiwan

Walaupun tempat pergantungan kita itu adalah golongan yang baik. Namun perlu dibezakan unsur Ikhtiyariy dengan pergantungan ini.

Al Fatihah sebagai Doa' dan konsep tawakal.

Disini jelas bahawa Al Fatihah adalah suatu Surah yang berbentuk doa'. Terdapat ramai ulama' yang membenarkan kita mengangkat tangan doa' semasa membaca Surah ini. Allah menegaskan bahawa setiap permintaan dan pertolongan yang ingin kita pinta memerlukan usaha dan bayarannya terlebih dahulu iaitu perhambaan dan penundukan kepadanya.

Firman Allah

وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

" Dan tidak aku ciptakan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah kepadaku" (Surah Az Zariat : 56)

Kita diminta untuk bertawakal selepas usaha yang kita laksanakan. Tawakal ialah menyerah diri kepada Allah SWT, redho terhadap ketentuannya mengikhlaskan niat kita dan memperbaiki sangkaan kita terhadapNya. Adapun marhalah Tawakal adalah antara tingkatan tertinggi golongan sufi yang merasakan bahawa dunia ini tidak berguna padaNya.

Pokok tawakal ialah teguh hati kita dengan meyakini kesemua perkara adalah ditangan Allah. Kemudian perlu hati kita merasa aman dan bertenang dan tidak bimbang dengan ketentuanNya. Firman Allah

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّل عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ المُتَوَكِّلِينَ

"Apabila kamu telah berazam (bertekad dan berusaha) maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah sukakan golongan yang bertawakal"

( Surah Ali Imran :159)

Namun dalam bertawakal tidak dapat tidak akan termasuk unsur duniawi atau ikhtiyar mahkluk untuknya. Ulama' menetapkan bahawa terdapat 2 jenis sebab duniawi yang boleh disertai dengan tawakal.

1) Sebab keagamaan : iaitu apabila kita berdoa, bermunajat, beribadah dengan tekun kemudian kita meminta sesuatu, maka Allah boleh memberi sesuatu yang kita pinta samada secara tunai atau ditangguhkan di akhirat mahupun diberi dalm bentuk kaffarah dosa. Namun perlu diingatkan bahawa ibadah kita bukan penentu untuk kita mendapat pertolongan dan pahala dariNya.

2) Sebab Keduniaan : Iaitu lantran usaha kita sebagai contoh kita berubat secara moden atau tradisional untuk kesemua penyakit kita. Usaha ini juga membawa kepada pertolongan dan boleh disertai dengan tawakal.

Ayat Ali Imran 159 menegaskan kepada kita agar berusaha bekerja dan menyara hidup daripada meminta-minta dalam kehidupan. Manusia digesa berazam dan berusaha gigih disamping doa. Namun ada pengecualian kepada golongan yang terkhusus untuk kerja sesuatu. Mereka boleh meminta saraan daripada muslimin lain.

Sebagai contoh pada zaman Rasulullah, golongan Suffah diberi tugasan untuk mengimarah masjid, menjaga masjid serta menjadi pendengar hadis yang setia seperti Abu Hurairah. Lantaran itulah mereka diberi makan oleh para sahabat yang lain. Pada zaman tersebut perkerjaan utama adalah berniaga. Tiada gaji tetap untuk penjaga masjid, tentera atau sebagainya. Mereka berperang bilamana diperlukan dan seluruh rakyat adalah tentera. Tugas pengkhusussan mula menjadi suatu kerjaya apabila zaman Saidina Umar RA yang membuat Diwan, Pegawai POS, Tentera dan Polis bandar dengan gaji tetap dan bermulalah era pekerjaan selain perniagaan dan pengkhususan tidak lagi dianggap sebagai orang yang tiada kerja.

Konsep Ibadah Sahihah.

Dalam ayat ini juga mengajar kita erti ibadah. Ibadah bermaksud penundukan dan ketaatan kita kepada Allah semata-mata. Sheikh Rashid Redho dalam Tafsir Al Manarnya menyatakan nilai penundukan dan ketaatan makhluk kepada rajanya tidak boleh dikatakan sebagai Ibadah walaupun ada unsur perhambaan dan ketaatan di situ. Ibadah ialah suatu pekerjaan yang disertai dengan keikhlasan mendalam, niat yang tulus, bebas daripada tujuan lain dan dikhususkan untuk Allah SWT. Ibadah terdapat 2 bahagian iaitu:

1) Ibadah Khusus : suatu Ibadah yang dimaktubkan secara jelas dalam Al Quran dan disarankan dalam Hadis dan Athar Rasulullah. Seperti Ibadah Solat, Nikah, Zakat dan berhaji.iBadah ini dilarang sama sekali penambahan dan ubahsuai yang boleh membawa kepada Bida'ah Dzalalah. Adapun beberapa tindakan berdoa dan berlafaz niat solat dilakukan selepas dan sebelum Ibadah khusus dilakukan tidak dikatakan Bida'ah sebaliknya sebagai galakan untuk beribadah. Ibadah khusus mempunyai syarat dan rukunya yang semestinya berpandukan kepada kaedah Rasulullah dan para Sahabat Ajmai'n.

2) Ibadah Umum : Ibadah ini dilakukan secara tidak langsung. Segala perbuatan yang diniatkan untuk mendapat pahala asalkan mengikut syara' tiada nas yang mengharamkan, tidak melampaui batas dan berniat ikhlas maka sesuatu itu dinamakan Ibadah umum. Contohnya membaca buku agama dan akademik, makan, memebrsih rumah dan mengarang untuk dakwah. Walaubagaimanapun terdapat sebahagian ulama' yang mangkhususkan pahala sekadar perkara yang dinaskan daripada sunnah Rasulullah yang sahih. Walaupun saranan ini kelihatan untuk memebrsihkan ibadah daripada bida'ah, namun usaha ini kadangkala menyempitkan pengertian Ibadah yang disebut dalam Surah Az Zariat ayat 56 tersebut.

Perihal Tawasul.

Ramai yang terjebak dengan perbahasan tawasul serta tidak dapat membezakan tawasul denga syirik kepada Allah. Meminta pertolongan daripada makhluk selain Allah adalah sesat dan syirik. Namun terdapat ulama' sufi yang menghgunakan usaha tawasul (berdoa dengan disertai dengan penyertaan nama sheikh, Rasul dan Nabi sebagai penguat doa') untuk memudahkan penyampaian doa' mereka. Mereka menggunakan ayat Al Maidah :35.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

" Wahai orang-orang beriman, takutlah kalian kepada Allah, dan carilah jalan (Al wasilah) kepadaNya, dan bersungguh-sungguhlah (Al Jihad) ke jalanNya Moga kamu mendapat kejayaan". (al-Maidah : 35)

Tafsiran ulama' sufi ialah kita disaran mencari jalan (kaedah tawassul) untuk mendapat rahmat dan memudahkan doa' kita. Ianya seolah-olah recomandation daripada golongan mulia kepada kita. Namun berdasarkan hadis Rasulullah, Al wasilah bermaksud tempat khusus untuk Baginda nanti di syurga. Walaubagaimanapun Ulama' salafiyyah pula menyatakan syirik bagi kita untuk bertawasul. Perkara ini ditentang hebat oleh Sheikh Muhammad Abduh dan Sheikh rasyid Redho yang tidak ingin melihat kejatuhan Islam semata-mata kelemahan dan keterpesonaan umat Islam dalam kancah sufi dan tawasul. Namun dalam hal ini. Imam Hassan Al Banna menegaskan perbuatan tawasul tidak boleh dikatakan syirik selagi mana perwasilahan itu bukan berbentuk penyembahan dan pemujaan kubur. Tetapi ada baiknya bertawasul hanya melalui Baginda Rasulullah SAW yang jelas maksum dan terpeliharan daripada penyerupaan Iblis dan Jin.

Perbahasan Istia'nah.

Apabila kita berbahas mengenai pertolongan iaitu istia'nah Allah kepada kita, kita tidak akan terlepas daripada memandang pertolongan itu sebagai Nasrullah atau bantuan Allah yang maha kaya. Nasrullah lebih manfaatnya kepada golongan muslimin kerana bantuannya akan melemahkan musuh Islam dengan perantaraan tentera malaikat. Inilah bantuan yang dicita-citakan oleh para mujahidin. Pelbagai perkara pelik berlaku di medan jihad kerana bantuan khusus ini.

Dalam bab istia'nah kita dibolehkan mendapatkan pertolongan daripada golongan kafir dan munafiq serta fasiq. Ini terbukti apabila Rasulullah telah membenarkan Abdullah Bin Ubai turut serta dalam beberapa siri peperangan baginda. Juga peristiwa Abu Mahjan yang mabuk menyertai peperangan menentang Parsi.

Dalam meminta pertolongan kaum kafir ulama' berkhilaf:

* Imam Malik dan Ahmad tidak mengharus secara mutlak.
* Imam Abu Hanifah mengharuskan dengan syarat Islam yang mendominasi.
* Imam Syafii'e menhgaruskan dengan syarat umat Islam benar-benar terdesak dan golongan kufur cenderung kepada kita.

Rasulullah pernah menghantar tamar ajwat dan memberi 5 ratus dinar kepada Quraisy Mekah semasa dilanda kemarau. Jadi sini kita boleh meinta pertolongan dalam persefahaman yang membawa kearah kebaikan (tahalluf) dan boleh memberi pertolongan juga kepada mereka, atas sifat Rahman dalam jiwa pendakwah.

Tafsir al-fatihah(ayat 6)

اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
"Tunjukkanlah kami jalan yang lurus" (surah Al Fatihah :6)

Kali ini kita akan cuba menghalusi kemuncak bagi matlamat Surah Al fatihah yang sebenarnya. Inilah matlamat utamanya iaitu suatu doa untuk memohon jalan yang lurus. Kenapakah disebut jalan yang lurus? Kenapa tidak dikatakan jalan yang satu atau jalan yang terpilih? Sifat lurus pada jalan adalah jalan yang semestinya disukai dan akan dipilih oleh seorang pemandu. Mereka akan memilih jalan yang mudah dibawa tanpa memerlukan tenaga yang lebih untuk mengawal kenderaan. Inilah perumpamaan ayat ini.

Jalan yang lurus.

Suatu ketika Rasulullah SAW pernah menggariskan pada tanah satu garisan. Kemudian Rasulullah membuat garis-garis yang bercabang daripada garisan induk tersebut. Lalu baginda membacakan ayat Al Ana'am ayat 153

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

" Dan sesungguhnya inilah jalanku yang lurus maka ikutilah ia, dan janganlah kamu ikut akan jalan-jalan yang lain, kelak ia akan memecah belahkan kamu"

Jalan yang lurus adalah impian setiap manusia. Jaln ini juga dikenali oleh golongan kafir sebagai jalan hidup yang bahagia. Agama Budhha menganggap Nirvana dan Mokhsha sebagai matlamat hidup. Terdapat agama lain yang ingin bersatu hidupnya dengan tuhan. Islam selaku nahjus Sohih yang menjadi nizam al hayah memberi pelbagi solusi lengkap kepada manusia. Lihatlah satu persatu system nya:

* Kehalusan system pewarisan harta (yang tiada dalam agama lain)
* Keadilan system perkahwinan (Hindu mengamalkan amalan satthi yang menzalimi balu)
* Kecantikan system ekonomi Islam (tiada agama lain yang mempunyai system ekonominya sendiri)
* Pengertian politiknya yang telus.
* Aturcara Ibadahnya yang menyihatkan tanpa memberatkan golongan awam serta menenangkan. Inilah Islam.

Pengertian Hidayah.

Menurut Jamaain Abdul Murad dalam Tafsir Juzu' Amma dan Sheikh Rashid Redho dalam Tafsiran Al Manarnya, manusia sedari kecil sudah diberikan hidayah. Iaitu :

* Hidayah Wujdan At Tabii'y : Ini ialah hidayah dan petunjuk yang Allah beri kepada manusia sejak dilahirkan. Iaitu rasa lapar, dahaga dan panas yang tidak memerlukan guru untuk difahami oleh mereka.
* Hidayah Al Hawas : Hidayah panca indera yang memandu manusia untuk mendapat maklumat seperti mata, telinga dan kulit. Petunjuk ini disebut sebagai reseptor dalam istilah sainsnya.
* Hidayah Aqli : iaitu petunjuk dan maklumat yang disintesis atau diproses oleh akal manusia. Melalui akallah manusia tahu mana yang baik atau buruk. Lantaran itulah manusia yang bijak (ulul Albab) akan menggunakan akalnya untuk melihat kebenaran Ilahi dan memastikan dirinya mentaati Allah melalui anugerah akal. Allah sering menyindir golongan pandir yang tidak mahu menggunakan akalnya demi mendapat kebenaran sebagai (Afala ya'qilun, afala tatafakkarun)
* Hidayah Ad Din : Ini ialah hidayah yang Allah beri kepada sesiapa yang berhak. Tidak semua insane diberikan hidayah ini. Kerana itulah jika kita semata-mata menggunakan nazarah (penglihatan dan pengamatan) untuk mencari kebenaran kita tidaka akan memperolehi kebenaran lantaran tiadanya hidayah ini pada kita.
* Taufiq : Taufiq adalah usaha ikhtiyariy manusia untuk mendapatkan kebenaran. Tanpa usaha Allah tidaka akan mengubah diri dan situasi kejahilan kita kepada kebenaran. Inilah peranannya pendakwah untuk menggerakkan taufiq ke dalam diri madu' mereka tanpa mengira sasaran menerima dakwah atau tidak.

Penggunaan Akal untuk mendapat Hidayah.

Dalam Surah As Syams Allah berfirman,

فَأَلهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

" Maka diilhamkan kepada manusia jalan yang buruk (fujur) dan jalan yang baik (taqwa)" (Surah As Syams :8)

Maka setiap manusia akan diilhamkan jalan baik dan buruk berdasarkan kemahuan dan kehendaknya. Apabila seseorang manusia inginkan jalan kebaikan Allah akan membantu dan meluaskan dadanya untuk Islam. Rasulullah menegaskan bahawa orang yang diinginkan Allah akan kebaikkannya maka akan diberi kefahaman Ilmu agama walau apa latarbelakangnya sekalipun.

Kita melihat bagaimana Pluto dan Xeno ahli falsafah Yunani yang diilhamkan pelbagai idea yang bernas dan baik untuk masyarakatnya. Tamadun ini juga menyediakan basis demokrasi yang dekat dengan system keadilan Islam. Lantaran itulah ada yang berpendapat terdapat petunjuk atau Nabi yang diutuskan kepada bangsa Yunani ini.

Kita juga melihat bagaimana golongan Yahudi yang anarkis serta degil diberikan pelbagai idea yang saban kurun menyusahkan umat manusia seluruhnya. Idea teori Darwin yang menghasilkan pertembungan rasial seluruh dunia, Teori Komunis yang banyak memakan nyawa serta ternyata songsang dari fitrah kemanusiaan, teori kapitalisme yang menekan sesetengah indidividu dan bersifat rasis, idea pertembungan Islam dengan blok barat yang menghasilkan pertembungan Islam dengan barat secara berterusan serta banyak idea lagi yang menyesakkan manusia. Jaln –jalan kejahatan ini dibantu oleh Iblis dan Syaitan atas keizinan Allah. Disinilah perana manusia berdoa agar diberikan idea dan ilham untuk maslahah umat, idea untuk membangunkan umat dan idea untuk pembinaan yang muslih.

Perlunya manusia akan tali yang sejahtera.

Firman Allah

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ

"Berpegang teguhlah dengan tali Allah secara beramai-ramai dan janganlah berpecah belah" (Surah Ali Imran : 103)

Tali ini juga disebut sebagai U'rwatul U'sqa iaitu tali yang sejahtera. Bantuan (jalan) ini hanya didapati setelah kita mengkufuri perkara-perkara toghut (fujur). Disini jelas bahawa di dunia ini hanya ada 2 sahaja blok. Blok Islam serta blok jahiliyyah yang menyesatkan. Blok Islam diperolehi jika kita menidakkan blok kesesatan tersebut. Inilah syarat untuk mendapat tali yang sejahtera tersebut.

Golongan yang tidak mendapat Tali Hidayah Allah.

Golongan ini sdisebutkan sebagai golongan ilhad. Golongan yang umumnya dikenali sebagai ideologist ini akan tyerseungkur akhirnya. Mulhidun adalah perlambangan manusia yang tidak dibenarkan memilih jalan taqwa (jalan takutkan Allah).

Ciri-ciri mereka adalah:

* Kegoyangan fikiran dan pertentangan jiwa.

Telah terbukti ideaologi yang berasaskan secular dan atheis (Darwinisme dan Marxisme) telah menghasilkan porak peranda dis eluruh dunia. Teori ini hanya mengahasilkan golongan hero rimba yang menindas golongan lemah. Lihatlah teori kolektif komunisme (taa'ddudiyyah), kita melihat dimana kesamarataan yang dicanangkan hanya retorik yang indah. Sebaliknya penindasan golongan yang tidak berdaya, golongan beragama, golongan berpenyakit begitu teruk sekali. Mereka sendiri tidak tenang dan tidak tahu arah kemana teori mereka. Mereka sendiri terpaksa mengubah teori asal Marx ke bentuk yang lain serta lebih agresif dan kejam (Bolshevik). Mereka tertekan dan menderita atas kesilapan mereka sendiri.

* Mencari kepentingan diri.

Golongan yang tersesat akan senantiasa memikirkan nasibnya sahaja kerana tiada bimbingan kuasa lain yang besar. Akal dan jasad mereka adalah cagaran bagi menongkah arus kemanusiaan. Mereka mencaturkan sosiologi manusia mengikut naluri hati tanpa memikirkan hubungan erat timbal balik yang Allah sarankan. Mereka akan terjebak dengan ideology yang mementingkan kepentingan bangsa, negara, ras dan suku mereka. Inilah assobiyyah yang haram untuk diikuti.

* Memusnahkan system kekeluargaan dan system masyarakat.

Ideologi sesat banyak menghasilkan durjana-durjana yang kononnya sebagai solusi sebaliknya bertindak sebagai pemusnah system kekluargaan dan masyarakat. Manusia mula menerapkan fahaman ananiyyah dan individualisme. Merteka lupakan kepentingan jiran, keluarga, adab sopan dan kehormatan maruah keluarga seperti yang Islam bawakan. Komunis telah lama memisahkan anak-anak daripada ibu bapa kerana anak yang sihat akan menjadi milik negara (seperti fahaman kerajaan Sparta Yunani kuno). Mereka lupakan maluri tradisi mereka terhadap kasih sayang dan hati. Inilah fahaman sesat yang dibauri oleh pandaun syaitan untuk memusnahkan ajaran hilmun bawaan Rasulullah SAW.

Terdapat banyak lagi natijah dan implikasi buruk akibat ketiadaan hidayah dan petunjuk ke arah yang lurus dan salimah. Maka sebagai golongan pendakwah, seharusnya kita juga memohon petunjuk agar tidak menjadi seperti Azazil yang lupakan doa kepada dirinya sendiri..

Tafsir al-fatihah(ayat 7)

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ"Jalan yang menikmatkan engkau ke atas mereka selain golongan yang dimurkai dan golongan yang sesat". (Surah Al Fatihah : 7)

Maka selepas kita melihat maksud kemuncak Al fatihah iaitu ayat yang ke-6, perlu kita tahu rahsia disebalik jalan tersebut. Jalan yang kita pohon tersebut mengandungi taqyid (syarat)nya yang tersendiri. Dalam ayat ke-7 ini kita akan mengenalpasti syarat tersebut. Semestinya jalan yang kita pilih adalah jalan yang dinikmatkan Allah akan golongan terdahulu dan akan dating. Jalan atau disebut tali sejahtera ini merupakan nikmat yang tertinggi. Sebagai makhluk yang lemah, kita memerlukan bantuan pencipta kita untuk memandu akal kita dalam memilih jalan hidup kita samada jalan taqwa ataupun jalan fujur. Inilah yang perlu kita fikirkan. Matlamat perjuangan para pendakwah ialah :

* Memperbaiki Aqidah umat manusia sekeliling yang telah diselaputi karat penyelewengan baik daripada pihak musuh Islama atau umatnya sendiri yang menjadi pesuruh musuh Islam. Inilah kerja tetap para anbiya' dan mursalin. Kerja Aqidah adalah kerja asasi para pejuangn Islam. Matlamat perjuangn baik dengan method ziarah, method bengkel, seminar, tazkirah atau mata pena, matlamatnya adalah membina generasi ubudiyyah. Adapun matlamat pembinaan masyarakat dan negara adalah matlamat sementara yang membawa kepada matlamat agung ini.
* Memperbaiki akhlak dan sikap. Akhlak manusia adalah berpandukan kepada system Aqidah. Akhlak yang kukuh akan dimanifestasikan daripada Aqidah. Usaha memoralkan masyarakat adalah sia-sia jika lunas Islam tidak dipenuhi. Kerana Sistem Islamlah yang boleh memugar sikap, gelagat, tanggapan dan perilaku.
* Memperbaiki system pengurusan dunia. Ini bermula dengan pengurusan keluarga menurut Al Quran dan Sunnah, pengurusan masyarakat, negeri, Negara dan diplomasi negara menurut Islam.

Kesemua matlamat pendakwah ini adalah memerlukan pemilihan jalan yang sejahtera dan taqwa. Inilah jalan yang penuh ranjau dan berduri. Hassan Al Banna dalam ceramahnya pada awal penubuhan Ikhwan selalu mengingatkan pengikutnya akan cabaran, siksaan, dilemma dan kesusahan mendatang walaupun kesusahan tersebut hanya berlaku sekitar 10 tahun selepas ucapan tersebut. Ini menunjukkan sekiranya kita memilih jalan taqwa sekalipun kita tidak akan terlepas daripada kesusahan akibat manusia yang berhati Iblis.

Golongan yang dijamin mendapat nikmat melalui jalan sejahtera adalah;

* Rasul dan Nabi
* Syuhada' yang menyaksikan keesaan Allah melalui penjualan nyawanya sendiri.
* Para solehin yang beramal.
* Golongan mujahidin yang istiqamah, serta golongan-golongan lain yang dijamin melalui ayat Al Quran sendiri.

Siapakah yang dimurkai?

Marilah kita mengenal golongan yang dimurkai ini. Dikatakan oleh Ulama' mufassirin, golongan yang cuba ditonjolkan dalam ayat ini ialah golongan Yahudi.

Apakah sikap Yahudi?

* Mereka bongkak dengan Allah. Mereka juga bongkak dengan manusia yang lain. Mereka bangga dengan keturunan Nabi Yaakub mereka dan dikurniakan lebih kurang 4000 Nabi yang bukan Rasul! Mereka banyak sekali mencabar para Nabi, banyak bertanya soal remeh seolah mengolok-olokkan Allah serta inginkan bangsa lain tunduk kepada mereka walau dimana mereka berada. Kini kita melihat golongan Yahudi zionis, menguburkan mayat mereka dalam keadaan berkot dan ditanam secara menegak bukannya melintang seperti Islam dan Kristian. Mereka mengatakan mereka golongan yang tidak akan tidur atau tunduk kepada orang lain walaupun setelah mati.

* Mereka amat memusuhi Nabi yang selain Nabi Musa A.S. sebabnya ialah, Nabi Musa telah memberi kehormatan dan maruah yang tinggi kepada mereka serta menyelamatkan mereka denga pelbagai mukjizat yang pelbagai. Mereka adalah penentang Nabi Samuel semasa Nabi ini memutuskan agar Talut yang mengetuai mereka menawan Palestin kembali daripada tentera Jalut (golongan Arab Kana'n). Mereka telah sepakat untuk membunuh Nabi Isa A.S walaupun Nabi Isa diutus daripada kaum mereka sendiri. Mereka berkonspirasi dengan Yahuza dan akhirnya memakan dirinya sendiri. Mereka bencikan nabi Daud dan Sulaiman serta Yahya dan Zulkifli.

* Mereka adalah rasist ! Mereka mengesyorkan teori Darwin dan Komunisme (class struggle) yang memakan nyawa jutaan umat manusia. Teori persaingan gila ini diterapkan secara revolusi dan mengejut sehingga teor ini memakan sendiri para penciptanya. Mereka atas sangkaan bahawa golongan selain Yahudi adalah golongan Goyyim (babi) yang tidak setaraf dengan mereka. Atas cetusan mereka Nazi dan Fasis Itali juga bangkit untuk menonjolkan ras mereka yang mengakibatkan suasana lebih buruk.

Mereka telah dilaknat dengan liusan nabi mereka sendiri iaitu Nabi Allah Daud dan Isa.

Firman Allah,

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ

"Telah dilaknat akan orang kafir daripada golongan Bani Israel menerusi lisan Daud dan Isa Bin Maryam disebabkan mereka derhaka dan mereka melanggar (peraturan)"

(Surah Al Maidah : 78)

Melalui ayat ini, ualama' menceritakan mengenai peristiwa golongan Bani Israel pada zaman nabi Daud bertukar menjadi kera. Hal ini adalah kerana mereka melanggar perintah Allah agar memuliakan hari sabtu dimana dilarang untuk mereka bekerja (menangkap ikan). Mereka digelar sebagai Ashabul Sabti.

Pada zaman Nabi Isa A.S pula, golongan manja ini (yang telah beriman) inginkan pula hidangan daripada langit iaitu salwa dan manna. Apabila memakan makanan tersebut terlupa janji mereka akan meningkatkan taqwa mereka sebaliknya mereka mengkufuri pula Nabi Isa A.S. Lalu mereka didoakan menjadi babi. Golongan ini disebut sebagai Ashabul Maidah.

Berdasarkan ayat ayat dalam surah Al Maidah juga, kita mendapati bahawa golongan Yahudi ini senantiasa mengkufuri ajaran taurat. Mereka lebih selesa dengan tulisan kitab Thalmud yang berunsur hikayat dan doktrin rasial mereka.

Siapakah golongan yang sesat?

Dalam hal ini, ulama' mengatakan golongan ini ialah golongan Nasrani yang kini dijelmakan dalam agama Kristian. Perlu diingatkan Kristian hari ini bukan lagi ahli kitab sebagaimana golongan Nasrani dahulu. Ajaran mereka telah lama diselewengkan oleh golongan Rom sewaktu kebangkita Tamadun Rom dahulu. Kerajaan Rom membuat re- branding kepada agama Nasrani dengan mengatakan bahawa Nabi Isa lah anak tuhan yang digelar Kristos (bahasa Rom kuno bermaksud orang yang suci). Lantaran itu ajaran Nasrani yang diwarisi daripada orang-orang Hawariyyun telah dinamakan Christ dan orang yang menautnay dipanggil Christian. Maka lambang salib mula digunapakai dan mazhab pertama ditubuhkan adalah Gereja Roman Khatolik. Pada dasarnya mereka mewarisi ajaran Nabi Isa. Walaubagaimanapun selepas dirosakkan Aqidah tersebut, maka ajaran ini mula menyimpang daripada ajaran sebenarnya.

Secara umumnya orang yang sesat tanpa hidayah Islam adalah disebabkan oleh beberapa factor;

* Tidak pernah sampai kepada mereka akan dakwah : Hari ini golongan sebegini mungkin sudah tiada. Adapun kata ulama' sekiranya tiada golongan pendakwah yang sampai pada sesuatu tempat maka mereka dihukumkan jahil dan tidak akan disiksa.
* Telah sampai dakwah tetapi golongan ini tidak ingin menggunakan hidayah aqli dan hidayah hawas (pancaindera) untuk memikirkan ayat Quran. Kita melihat bagaimana saintis yang terkenal dalam National Geographic iaitu Jaques telah memeluk Islam setelah menemui sendiri pemisah (tabir) antara laut masin dan air tawar di dalam laut yangmembuktikan ayat Surah Ar Rahman ayat 20 dan 22.
* Telah beriman namun sesat dalam amalannya. Golongan ini mungkin terlalu yakion dengan Ilmunya sehingga riya' menguasai dirinya. Golongan ini juga terpengaruh dengan unsur agama lain lalu mencantumkannya dengan ajaran Islam. Terdapat juga golongan beriman yang tidak mahu menuntut lebih mendalam ilmu agama sehingga tersesat dalam pengamalan dan tanggapannya tentang syariah Islam.

Kesimpulan

Daripada ayat ini daptlah kita mengambil iktibar bahawa akal dan manusia lain bukanlah pelindung atau pergantungan kita yang sebenar. Sikap bongkak dan sikap skeptical melulu terhadap ajaran Allah akan menjerumuskan kita ke lembah kekufuran. Lantaran itulah Imam Hassan Al Banna menggesa ahli Ikhwan untuk taa'bud tanpa soal tau berittiba' dengan segala peraturan Syariah tanpa soal akan hikmah atau falsafahnya. Mempelajari falsafah adalah untuk menguatkan iman bukan sebagai punca kita mempersoalkan kekuasaan Allah dan kesyumulan ajaran Islam.

Firman Allah,

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاء كَمَثَلِ العَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتاً وَإِنَّ أَوْهَنَ البُيُوتِ لَبَيْتُ العَنكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

" Perumpamaan manusia yang mengambil selain Allah sebagai wali (penolong/pelindung) adalah seperti labah-labah yang membuat rumah. Dan sesungguhnya selemah-lemah rumah adalah rumah labah-labah"

(surah Al Ankabut : 41)

Sebagai pendakwah Islam, selain berdoa perlu kita ketahui sumber-sumber sekunder lain untuk memperteguhkan dakwah kita.

* Kekuatan komitmen. Intima' yang tinggi dalam gerakan Islam akan mengelakkan kita terjerumus dalam lembah fujur. Kita akan terikut-ikut sikap kafir dan munafiq dalam nenyelesaikan masalah. Lantaran itu sirah dan tafsiran Al Quran adalah ubat yang mujarab untuk kita mengetahui selok belok penyelesaian masalah ala salafus soleh.
* Kekuatan manhaj dan Fikrah. Perlu diperteguhkan manhaj gerakan Islam serta membina paradigma yang jelas mengenai kesempurnaan Islam. Hujah-hujah dan fakta sokongan perlu dipelajari dan dikaji oleh para pendokong gerakan Islam.
* Kekuatan Akhlak dan spiritual. Kekuatan ini diperolehi dengan hubungan ritual yang kerap. Senantiasa menjadi golongan istiqhfar dan golongan bertaubat.
* Kekuatan ukhuwwah. Ukhuwwah yang kuat dapat menjaga lingkaran kekuatan fikrah dan amal para pendakwah. Sekiranya ukhuwwah tidak kuat, pengaruh jahiliyyah dan musuh Islam mudah masuk meyusup tanpa disedari. Perkelahian murahan mudah berlaku sekiranya unsur ini tidak diperteguhkan.
* Kekuatan disiplin. Disiplin menjaga diri kita daripada menjadi golongan lemah, bermudah-mudah, lemah perancangan dan tidak optimistic dalam usahanya. Disiplin yang lemah akan menghasilkan golongan yang degil, sukar ditarbiah dan mudah terlepas daripada lingkaran kesatuan.

Secara umumnya, jalan yang diberi nikmat oleh Allah akan dicapai oleh kita melalui wasilah yang pelbagai. Namun kita percaya dengan jalan harakiyyah hizbiyyah ini, dalam usaha mengecap nikmat tersebut. Insya Allah…….

Rujukan utama (sila tambahkan pengetahuan anda dengan merujuk)

1) Mu'jam Al Mufarras Li Alfaz Al Quran Al Karim

2) Nasihat Agama dan wasiat Iman (Imam Habib Abdullah Hadad)

3)Manhaj Daurah Tadribiyyah

4)Tafsir Al Manar (Sheikh Rashid Redho)

5)Tafsir Juzu' Amma Jawi ( Sheikh Abdul Murad Sumatera Barat)

6)Punca-punca gerakan Atheis ( Dr. Abd Rahman Abd Khaliq)

Rabu, 16 Oktober 2013

Keutamaan Puasa Arafah

Salah satu amalan utama di awal Dzulhijjah adalah puasa Arafah, pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ini memiliki  keutamaan yang semestinya tidak ditinggalkan seorang muslim pun. Puasa ini dilaksanakan bagi kaum muslimin yang tidak melaksanakan ibadah haji.
Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)
Imam Nawawi dalam Al Majmu’ (6: 428) berkata, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah, menurut Imam Syafi’ secara ringkas dan ini juga menurut ulama Syafi’iyah bahwa disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa karena adanya hadits dari Ummul Fadhl.”
Ibnu Muflih dalam Al Furu’ -yang merupakan kitab Hanabilah- (3: 108) mengatakan, “Disunnahkan melaksanakan puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lebih-lebih lagi puasa pada hari kesembilan, yaitu hari Arafah. Demikian disepakati oleh para ulama.”
Adapun orang yang berhaji tidak disunnahkan untuk melaksanakan puasa Arafah.
عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ
“Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Bukhari no. 1988 dan Muslim no. 1123).
عَنْ مَيْمُونَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِى صِيَامِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ عَرَفَةَ ، فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِحِلاَبٍ وَهْوَ وَاقِفٌ فِى الْمَوْقِفِ ، فَشَرِبَ مِنْهُ ، وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ
“Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR. Bukhari no. 1989 dan Muslim no. 1124).
Mengenai pengampunan dosa dari puasa Arafah, para ulama berselisih pendapat. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dosa kecil. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, moga ditinggikan derajat.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51) Sedangkan jika melihat dari penjelasan Ibnu Taimiyah rahimahullah, bukan hanya dosa kecil yang diampuni, dosa besar bisa terampuni karena hadits di atas sifatnya umum. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 7: 498-500).
Setelah kita mengetahui hal ini, tinggal yang penting prakteknya. Juga jika risalah sederhana ini bisa disampaikan pada keluarga dan saudara kita yang lain, itu lebih baik. Biar kita dapat pahala, juga dapat pahala karena telah mengajak orang lain berbuat baik. “Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah (harta amat berharga di masa silam, pen).” (Muttafaqun ‘alaih). “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim).
Semoga Allah beri hidayah pada kita untuk terus beramal sholih.
Catatan: Puasa Arafah tahun ini (2013), jatuh pada hari Senin, 14 Oktober 2013
Artikel Muslim.Or.Id
==========
Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo
==========

Salah satu amalan utama di awal Dzulhijjah adalah puasa Arafah, pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ini memiliki  keutamaan yang semestinya tidak ditinggalkan seorang muslim pun. Puasa ini dilaksanakan bagi kaum muslimin yang tidak melaksanakan ibadah haji.
Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)
Imam Nawawi dalam Al Majmu’ (6: 428) berkata, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah, menurut Imam Syafi’ secara ringkas dan ini juga menurut ulama Syafi’iyah bahwa disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa karena adanya hadits dari Ummul Fadhl.”
Ibnu Muflih dalam Al Furu’ -yang merupakan kitab Hanabilah- (3: 108) mengatakan, “Disunnahkan melaksanakan puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lebih-lebih lagi puasa pada hari kesembilan, yaitu hari Arafah. Demikian disepakati oleh para ulama.”
Adapun orang yang berhaji tidak disunnahkan untuk melaksanakan puasa Arafah.
عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ
“Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Bukhari no. 1988 dan Muslim no. 1123).
عَنْ مَيْمُونَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِى صِيَامِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ عَرَفَةَ ، فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِحِلاَبٍ وَهْوَ وَاقِفٌ فِى الْمَوْقِفِ ، فَشَرِبَ مِنْهُ ، وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ
“Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR. Bukhari no. 1989 dan Muslim no. 1124).
Mengenai pengampunan dosa dari puasa Arafah, para ulama berselisih pendapat. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dosa kecil. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, moga ditinggikan derajat.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51) Sedangkan jika melihat dari penjelasan Ibnu Taimiyah rahimahullah, bukan hanya dosa kecil yang diampuni, dosa besar bisa terampuni karena hadits di atas sifatnya umum. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 7: 498-500).
Setelah kita mengetahui hal ini, tinggal yang penting prakteknya. Juga jika risalah sederhana ini bisa disampaikan pada keluarga dan saudara kita yang lain, itu lebih baik. Biar kita dapat pahala, juga dapat pahala karena telah mengajak orang lain berbuat baik. “Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah (harta amat berharga di masa silam, pen).” (Muttafaqun ‘alaih). “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim).
Semoga Allah beri hidayah pada kita untuk terus beramal sholih.
Catatan: Puasa Arafah tahun ini (2013), jatuh pada hari Senin, 14 Oktober 2013
Artikel Muslim.Or.Id
==========
Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo
==========