Senin, 18 Desember 2017

PERSEPSI YANG KELIRU TENTANG KEHIDUPAN DAN HAKIKAT MAHASISWA


Dulu, saat masih duduk di bangku SMA, banyak diantara siswa maupun siswi berpikir kalau kehidupan saat perkuliahan itu enak, belajarnya tidak setiap hari seperti di sekolah, banyak waktu senggangnya apalagi kalau dosennya tidak masuk, dan lain-lain. Sedikit tergelitik mendengar hal itu, namun dapat dikatakan hampir 90% dari apa yang mereka pikirkan tentang kehidupan perkuliahan adalah salah besar. Justru pada saat kuliah nanti, hidup akan terasa lebih sulit. Mulai dari aktifitas/kegiatan kampus yang padat hingga tugas-tugas dari dosen yang datang bertubi-tubi dan silih berganti. Dibandingkan dengan kehidupan siswa yang aktifitasnya hanya belajar dan mengerjakan tugas, kehidupan mahasiswa jauh lebih dan sulit karena mahasiswa bukan hanya belajar namun juga dituntut untuk bisa mengaplikasikan ilmu-ilmunya untuk diterapkan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Itulah mengapa mereka disebut dengan “Maha” siswa. Artinya, jika merujuk pada KBBI, maka kata “Maha” memiliki arti yaitu sangat; teramat; dan amat. Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya, mahasiswa berperan lebih besar dalam kehidupan sosial di lingkungan masyarakat dibanding-kan dengan siswa biasa. Selain itu ada beberapa hal yang juga membedakan antara siswa dengan mahasiswa, diantaranya yaitu:
1.        Mahasiswa memiliki pribadi yang mandiri
Sebagaimana kehidupan siswa di sekolah menengah pada umumnya, dalam hal belajar, ilmu-ilmu yang mereka dapatkan masih bergantung pada teori-teori yang dijelaskan oleh guru-guru mereka di kelas. Artinya mereka masih “disuapin” ilmu oleh guru mereka. Sedangkan mahasiswa dituntut untuk bisa mengeskplorasi ilmu-ilmu dan wawasan yang mereka miliki dengan cara melakukan penelitian, menghadiri seminar/workshop, studi banding, dan lain-lain. Sehingga menjadikan mereka untuk tidak hanya bergantung pada penjelasan dosen-dosen di kelas. Inilah yang menjadi wujud mahasiswa yang mandiri.

2.        Mahasiswa mampu memikul amanah/tanggung jawab yang lebih besar
Seperti yang telah disampaikan di atas, mahasiswa tidak hanya belajar untuk diri mereka sendiri namun juga untuk orang-orang di sekitar mereka. Maksudnya di sini adalah mahasiswa mengemban amanah yaitu mengabdikan diri mereka untuk masyarakat. Mahasiswa dituntut untuk bisa menerapkan ilmu-ilmu yang mereka miliki dalam bentuk pengabdian diri untuk kemaslahatan masyarakat di sekitar mereka.

3.        Mahasiswa mampu berpikir secara rasional
Berbeda dengan siswa, dalam hal ini mahasiswa dituntut untuk harus bisa me-nyelesaikan segala permasalahan yang ada di lingkungan masyarakat dengan ber-pikir secara logis. Hal ini agar solusi yang nantinya akan mereka berikan dapat efektif dan berdampak baik sehingga dapat menyelesaikan permasalahan dengan cepat tanpa merugikan orang lain.

4.        Mahasiswa harus kritis!
Di sini maksudnya adalah dalam membahas atau membicarakan suatu isu, mahasiswa harus berpikir secara kritis karena ini bertujuan agar mendapatkan segala informasi dengan jelas dan informasi tersebut dapat dipercaya dan dipertanggung jawabkan.

Inilah beberapa hal yang membedakan antara siswa dengan mahasiswa. Dari sini juga terlihat jelas, bukan hanya kehidupannya yang berbeda akan tetapi sikap dan pola pikir siswa dengan mahasiswa sangat jauh berbeda. Sehingga ini dapat menjadi catatan bagi para pembaca, khususnya siswa sekolah menengah atas untuk memahami hakikat diri mereka sendiri dan juga untuk mempersiapkan diri sebelum nantinya mereka akan memasuki yang namanya kehidupan mahasiswa yang luar biasa.

Sumber: http://kbbi.web.id/maha-, http://muda.kompas.id/

Kamis, 13 November 2014

Faidah Hadits Keutamaan Mendahulukan Sebelah Kanan


Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam amat menyukai memulai dengan kanan dalam mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam urusannya yang penting semuanya” (Muttafaqun ‘alaih).
Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dalam Kitabul Wudhu Bab at-Tayammuni fil Wudhu’i wal Ghusli 1/269 hadits no.168, dan Muslim dalam Shahih-nya, dalam Kitabu ath-Thaharati Babut tayammun fith Thahuur wa Ghairih 1/226 hadits no.268.

Biografi Sahabat Periwayat Hadits

Ia adalah seorang wanita Shiddiqah binti Shiddiq, Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma, Ummul Mukminin, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta merupakan istri beliau yang paling populer. ‘Aisyah termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, terutama hadits-hadits yang berhubungan dengan kehidupan rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah radhiyallahu ‘anha terkenal dengan pemahaman agamanya yang mendalam, ilmu, hafalan dan penguasaan bahasa Arab. Aisyah radhiyallahu ‘anha wafat pada tahun 57 Hijrah. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu memimpin pelaksanaan shalat jenazahnya. (Lihat Siyaru A’lamin Nubala 2/135, Tahdzibut Tahdzib 12/433.)

Kosa Kata

يُعْجِبُهُ: takjub dengan sesuatu artinya menyukainya. Hal ini dikuatkan oleh teks dalam riwayat lain milik Al-Bukhari dan Muslim يُحِبُّ (Lihat Shahih Al-Bukhari hadits no.426 dan Shahih Muslim pada tempat yang sama.)
التَّيَمُّنُ : memulai dengan kanan.
تـَــنَعُّلِهِ: Mengenakan sandal yaitu alas kaki (sepatu). Maksudnya, segala yang dijadikan pelindung kaki dari tanah. Mulai mengenakan sandal untuk kaki sebelah kanan dulu.
تَرَجُّلِهِ: menyisir rambut. Maksudnya merapikan dan meminyakinya.
وَطُهُورِهِ: Kata ini dieja dengan memfathahkan huruf tha` dan mendhommahkannya. Berdasarkan bacaan memfathahkan huruf tha`, maka maksudnya adalah sesuatu yang dipergunakan untuk bersuci seperti air dan tanah. Berdasarkan bacaan mendhommahkan tha` , maknanya perbuatan untuk bersuci seperti mandi, berwudhu dan hal lain yang serupa dengannya. Inilah yang dimaksud dalam hadits. Jadi, memulai dengan sebelah kanan dalam bersuci maksudnya ialah memulai dengan anggota-anggota tubuh sebelah kanan. Memulai dengan tangan kanan dan kaki kanan dalam wudhu. Dan dalam mandi, memulai sisi tubuh sebelah kanan.
وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ : Pengertiannya, beliau memulai dengan sebelah kanan dalam seluruh urusannya. Maksudnya, seluruh perkara yang baik. Syaikh Taqiyyuddin bin Daqiq Al-‘Id rahimahullah mengatakan, “Itu keumuman yang dikhususkan. Karena masuk tempat buang hajat dan keluar dari masjid dan hal lain yang serupa dimulai dengan sebelah kiri”. (Lihat Ihkamul Ahkam Syarhu ‘Umdatil Ahkam 1/91, penjelasan hadits kesembilan. Ibnu Hajar mengutipnya dengan sedikit diringkas dalam Fathul Bari, penjelasan hadits tersebut. Dan dari situ kami mengutipnya).

Kandungan hukum dan bimbingan dalam Hadits

  1. Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang keutamaan para Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anhun, dan secara khusus ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia seorang wanita berilmu lagi paham agama, lagi bertakwa dan wara’. Ia sangat antusias untuk mencari tahu tentang sunnah Nabi dan menyebarkannya, agar umat Islam mengetahui keadaan-keadaan yang mendetail dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka bisa mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
  2. Hadits ini menunjukkan disunnahkannya memulai dengan sebelah kanan sesuai kandungan dalam hadits, dan apa yang disebutkan dalam hadits di sini hanya bersifat contoh saja, bukan berlaku pada apa yang disebutkan. Kaedah dalam perkara ini bahwa setiap yang berhubungan dengan hal-hal yang mulia dan keindaah dimulai dengan kanan, dan perkara-perkara yang tidak demikian dimulai dengan sebelah kiri. Dan di antara contoh yang dimulai dengan sebelah kiri atau menggunakan tangan kiri, masuk ke toilet, keluar dari masjid, melepas pakaian, bersuci dari hadats, membersihkan rongga hidung dan lain-lain.
    Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Kaedah syariat yang terus berlaku bahwa segala yang berhubungan dengan kemuliaan dan keindahan dianjurkan untuk memulai dengan sebelah kanan, dan segala yang merupakan kebalikannya dianjurkan memulai dengan sebelah kiri. (Syarah An Nawawi terhadap Shahih Muslim 3/160 dengan sedikit peringkasan. Untuk tambahan pengetahuan, lihat perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu Al-Fatawa 21/108-113.)
    Di antara contoh dianjurkan memulai dengan sebelah kanan atau menggunakan tangan kanan selain yang disebutkan dalam hadits, mengenakan pakaian, masuk masjid, memotong kumis, mencukur rambut kepala, salam dari shalat, makan, minum, mengambil sesuatu dan memberikannya, berjabat-tangan dan lain-lain.
  3. Agama kita, Islam, adalah agama yang sempurna, mengarahkan umatnya kepada segala yang memperbaiki urusan mereka, meninggikan kedudukan mereka dan membedakan mereka dari penganut agama lain, serta memberikan manfaat bagi mereka di dunia dan akhirat. Tidak ada kebaikan kecuali telah menunjukkan umat kepadanya dan tidaklah ada keburukan kecuali telah memperingatkan umat darinya.
  4. Kewajiban seorang muslim untuk mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam seluruh ucapan, tindakan dan jalan hidup dan semua tindak-tanduk belia. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah qudwah (pemimpin) dan uswah (teladan) bagi setiap muslim.
  5. Dalam hadits yang mulia ini tampak jelas kesempurnaan syariat Islam yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, bahkan mencakup perkara-perkara yang mungkin saja seorang manusia tidak memperhatikannya, namun ia mendapatkan arahan tepat dari Islam dalam persoalan tersebut. Seorang muslim akan memperoleh pahala ketika ia mengerjakan hal-hal tersebut selama selalu komitmen dengan syariat Allah Azza wa Jalla dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
  6. Seorang muslim diperintahkan untuk berpenampilan yang baik. Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersuci, membersihkan diri, menyisir rambut dan meminyakinya. Akan tetapi, hal ini tidak berarti melakukannya dengan berlebihan hingga mengalahkan seluruh urusan lain yang penting baginya. Ia harus tetap melakukan dengan seimbang, maksudnya perlu juga ia memperhatikan kebersihan tubuhnya, akan tetapi tidak berlebihan dalam urusan itu, sebagaimana disebutkan, agar ia tidak melenceng dari batasan yang diperbolehkan.

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel Muslim.Or.Id

Orang Yang Enggan Masuk Surga




Oleh : Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz rahimahullah
Soal :
Terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى، قيل ومن يأبى يا رسول الله؟! قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى
Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga
Tolong terangkan kepada kami makna hadits tersebut. Jazaakumullah khair.
Jawab :
Hadits ini hadits yang shahih, diriwaytakan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,
Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga “ (H.R Bukhari)
Makna hadits ini bahwasanya umat beliau yang mentaati dan mengikuti petunjuk beliau akan masuk surga. Barangsiapa yang tidak mengikutinya berarti dia enggan masuk surga. Barangsiapa yang mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mentauhidkan Allah serta istiqomah dalam syariat Allah serta menunaikan shalat, menunanaikan zakat, melaksanakan puasa Ramadhan, berbakti kepada kedua orangtua, menjaga dari perkara yang Allah haramkan seperti perbuatan zina, meminum minuman yang memabukkan, dan perkara haram lainnya, maka akan masuk ke dalam surga. Karena orang tersebut telah mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun orang yang enggan dan tidak mau mentaati syariat maka maknanya orang tersebut enggan untuk masuk surga. Orang tersebut telah mencegah dirinya untuk masuk ke dalam surga dengan amal keburukan yang dia lakukan. Inilah yang dimaksud makna hadits di atas.
Wajib bagi setiap muslim untuk mentaati syariat Allah, serta mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap syariat yang beliau bawa. Beliau adalah Rasulullah yang hak, penutup para Nabi ‘alaihis shalatu wa salaam. Allah Ta’ala telah berfirman tentang Nabi-Nya,
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah menyayangimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran :31)
Mencintai Rasulullah adalah di antara sebab timbulnya rasa cinta Allah kepada hamba-Nya dan juga sebab datangnya ampunan, serta sebab masuknya hamba ke dalam surga. Adapun bermaksiat kepada beliau dan menyelisihi beliau merupakan sebab kemurkaan Allah dan sebab terjerumusnya seseorang ke dalam neraka. Barangsiapa melakukan yang demikian itu, dia enggan untuk masuk ke dalam surga. Barangsiapa yang menolak untuk mentaati rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia telah enggan untuk masuk surga.
Wajib bagi setiap muslim, bahkan bagi seluruh penduduk bumi, baik laki-laki maupun perempuan, baik jin maupun manusia, seluruhnya wajib mentaati syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti beliau, melaksanakan perintah beliau, dan menjahui seluruh apa yang beliau larang. Ini merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Allah Ta’ala berfirman,
مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ
Barangsiapa yang mentaati Rasul sesungguhnya ia telah mentaati Allah “ (QS. An Nisa: 80)
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حُمِّلْتُمْ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan sejelas-jelasnya” (QS. An Nur: 54)
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“(Al A’raf: 158)
Dalam ayat sebelumnya Allah Ta’ala berfirman
فَالَّذِينَ آمَنُواْ بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُواْ النُّورَ الَّذِيَ أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al A’raf: 57)
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (QS. Al Hasyr:7)
Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Maka wajib bagi setiap orang yang mau berpikir dan bagi setiap muslim untuk mentauhidkan Allah dan komitmen di atas ajaran agama Islam, mentatai rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mentaati perintah beliau, menjauhi apa yang beliau larang. Itu semua merupakan sebab masuk ke dalam surga dan jalan menuju surga. Adapun barangsiapa menolak untuk melakukkannya maka orang tersebut telah enggan untuk masuk surga.
Hanya kepada Allah kita memohon keselamatan.
*****
Penerjemah : Adika Mianoki
Artikel Muslim.Or.Id

Rabu, 22 Januari 2014

MEMBALAS UCAPAN JAZAKALLAHU KHAIRAN & BARAKALLAHU FIIK

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ

"Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan: 'Jazaakallahu khairan' (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya."

[HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-Kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah (4/1321), Ibnu Hibban (3413), Al-Bazzar dalam musnadnya (7/54). Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi]

Pertanyaan:

"Apakah ada dalil, bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan 'wa iyyakum' (dan kepadamu juga)?"

Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Ta'ala menjawab:

"TIDAK, sepantasnya dia juga mengatakan 'Jazakallahu khairan' (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan pula), yaitu didoakan sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti 'wa iyyakum' sebagai athaf (mengikuti) ucapan 'jazaakum', yaitu ucapan 'wa iyyakum' bermakna 'sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian', namun jika dia mengatakan 'jazaakalallahu khairan' dan menyebut do’a tersebut secara nash, tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”

(Transkrip dari kaset: durus syarah sunan At-Tirmidzi,oleh Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah,kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, nomor hadits: 222. Diterjemahkan oleh Abu Karimah Askari bin Jamal).

Sumber: http://ibnulqoyyim.com/index.php?option=com_content&task=view&id=36&Itemid=2

Banyak orang yang sering mengucapkan "wa iyyak" (dan kepadamu juga) atau "wa iyyakum" (dan kepada kalian juga) ketika telah dido’akan atau mendapat kebaikan dari seseorang. Apakah ada sunnahnya mengucapkan seperti ini? Lalu bagaimanakah ucapan yang sebenarnya ketika seseorang telah mendapat kebaikan dari orang lain misalnya ucapan “jazakallah khair atau barakalahu fiikum”?

Berikut fatwa Ulama yang berkaitan dengan ucapan tersebut:

Asy Syaikh Muhammad ‘Umar Baazmool, pengajar di Universitas Ummul Quraa Mekah, ditanya:

Beberapa orang sering mengatakan “Amiin, wa iyyaak” (amiin, dan kepadamu juga) setelah seseorang mengucapkan “Jazakallahu khairan” (semoga Allah membalas kebaikanmu). Apakah merupakan suatu keharusan untuk membalas dengan perkataan ini setiap saat?

Beliau menjawab:

"Ada banyak riwayat dari sahabat dan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ada riwayat yang menjelaskan tindakan ulama. Dalam riwayat mereka yang mengatakan “Jazakalahu khairan,” tidak ada yang menyebutkan bahwa mereka secara khusus membalas dengan perkataan “wa iyyaakum.”

Karena ini, mereka yang berpegang pada perkataan “wa iyyaakum” setelah doa apapun, dan tidak berkata “Jazakallahu khairan”, (maka) mereka telah jatuh ke dalam suatu yang baru yang telah ditambahkan (untuk agama)."

Sumber: http://www.lautanilmu.com/2010/04/hukum-seputar-ucapan-jazakallahu-khairan-dan-waiyyakum/

Demikian halnya ketika membalas orang yang mengucapkan "Barakallahu fiik" (semoga Allah memberkahimu), yaitu dengan ucapan:

وَفِيْكَ بَارَكَ اللهُ

Wa fiika barakallah

(Semoga Allah juga memberkahimu)

(Ibnu Sunni, hal. 138, no. 278, lihat Al-Waabilush Shayyib Ibnil Qayyim, hal. 304. Tahqiq Muhammad Uyun. Lihat juga dalam Hisnul Muslim)

Allahu Ta'ala a'lam...

Sumber : duiseribusatumalam.blogspot.com/2011/08/membalas-ucapan-jazakallahu-khairan.html?

Senin, 13 Januari 2014

HAKIKAT SABAR (1)

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)

Pengertian Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Macam-Macam Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
  1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
  2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
  3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Sebab Meraih Kemuliaan

Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah iman dan amal shalih.
Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).
Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah ta’ala berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS. Ar Ra’d [13] : 24).
Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75).
Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala, “Dan Kami menjadikan di antara mereka (Bani Isra’il) para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah [32]: 24) (Lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 375)

Sabar Dalam Ketaatan

Sabar Dalam Menuntut Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.
Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13)
Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.
Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul, hal. 13)
Sabar Dalam Berdakwah
Syaikh Nu’man mengatakan, “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.”
Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da’i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya, begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid’ah dan hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka.
Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni.” (Taisirul wushul, hal. 13-14)

Sabar dan Kemenangan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami.” (QS. Al An’aam [6]: 34).
Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da’i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da’i ini meskipun dia sudah mati.
Maka wajib bagi para da’i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Demikianlah, tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan, ‘Dia adalah tukang sihir atau orang gila’.” (QS. Adz Dzariyaat [51]: 52). Begitu juga Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa.” (QS. Al Furqaan [25]: 31). Namun, hendaknya para da’i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua…” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Sabar di atas Islam

Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122). Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di jalan Allah. (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122-123)
Lihatlah keteguhan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya bersumpah mogok makan dan minum bahkan tidak mau mengajaknya bicara sampai mati. Namun dengan tegas Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan, “Wahai Ibu, demi Allah, andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar, sedetikpun ananda tidak akan meninggalkan agama ini…” (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 133) Inilah akidah, inilah kekuatan iman, yang sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan topan kehidupan.
Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita pada hari ini, baik yang berupa kehilangan harta, kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta, kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama pembela dakwah tauhid di masa silam.
Mereka disakiti, diperangi, didustakan, dituduh yang bukan-bukan, bahkan ada juga yang dikucilkan. Ada yang tertimpa kemiskinan harta, bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara, namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan pilar keimanan mereka.
Ingatlah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 102).
Ingatlah juga janji Allah yang artinya, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath Thalaq [65] : 2-3).
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan.” (HR. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat Durrah Salafiyah, hal. 148) dan Al Haakim dalam Mustadrak ‘ala Shahihain, III/624). (Syarh Arba’in Ibnu ‘Utsaimin, hal. 200)

Sabar Menjauhi Maksiat

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur’an.
Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk).”
Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan, “Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat, “Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 40).
“Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta’ala. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya.
Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana difirmankan Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan.” (QS. Huud [11] : 114). Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya.” (HR. Ahmad, dll, dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043)…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)

Sabar Menerima Takdir

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)

Sabar dan Tauhid

Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta’ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul, “Bab Minal iman billah, ash-shabru ‘ala aqdarillah” (Bab Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah)
Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullahu ta’ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini, “Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran.
Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari’at (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syari’at (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.
Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syari’at serta menjauhi larangan syari’at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa ‘ala untuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir.
Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama adalah sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa ‘ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari ‘Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Allah ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu’.”
Maka hakikat pengutusan Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.
Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.”
Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri, semoga Allah merahmati beliau. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah.
Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini, untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan hukumnya juga wajib.
Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan, “Qutila fulan shabran” (artinya si polan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar’i.
Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syari’at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan”
Perkataan beliau “Bab Minal imaan, ash shabru ‘ala aqdaarillah” artinya: salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah. Keimanan itu mempunyai cabang-cabang. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-cabang.
Maka dengan perkataan “Minal imaan ash shabru” beliau ingin memberikan penegasan bahwa sabar termasuk salah satu cabang keimanan. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menunjukkan bahwa niyaahah (meratapi mayit) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran. Sehingga setiap cabang kekafiran itu harus dihadapi dengan cabang keimanan. Meratapi mayit adalah sebuah cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa menyakitkan” (At Tamhiid, hal.389-391)
-bersambung insya Allah-
***
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Minggu, 22 Desember 2013

Ancaman Bagi Yang Lalai Dari Birrul Walidain

Dicatat oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (4/344),
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، قَالَ : سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ ، عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَوْفَى ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ مَالِكٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : ” مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا ، ثُمَّ دَخَلَ النَّارَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ وَأَسْحَقَهُ “
Muhammad bin Ja’far menuturkan kepadaku, Syu’bah menuturkan kepadaku, ia berkata, Qatadah menyampaikan hadits dari Zurarah bin Aufa, dari Abu Ibni Malik dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:
Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu setelah itu ternyata ia masuk neraka, maka Allah akan masukan ia lebih dalam lagi ke dalam neraka

Derajat hadits

Sanad hadits ini shahih, semua perawinya tsiqah. Dan semuanya merupakan perawi Shahihain kecuali Abu Ibni Malik, namun beliau adalah seorang shahabat Nabi, dan sahabat Nabi itu semuanya adil. Abu Hatim Ar Razi berkata tentang beliau: “lahu shahbah“. Syaikh Al Albani mengatakan: “ia seorang sahabat Nabi, termasuk penduduk Bashrah”. Para ulama memang memperselisihkan nama beliau, dalam sebagian riwayat disebut namanya Abu Ibni Malik, dalam sebagian riwayat lain disebut namanya Malik, atau Ibnu Malik atau Abu Malik (diringkas dari Silsilah Ahadits Shahihah, 2/42-43).

Faidah Hadits

  1. Birrul walidain atau berbakti kepada orang tua hukumnya wajib. Karena jika ditinggalkan Allah mengancam pelakunya dengan ancaman yang keras, yaitu dimasukan ke neraka yang lebih dalam lagi. Selain itu banyak sekali dalil yang memerintahkan untuk birrul walidain, Allah Ta’ala berfirman:
    وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
    Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isra: 23)
  2. Oleh karena itu bagi seorang muslim, berbuat baik dan berbakti kepada orang tua bukan sekedar memenuhi tuntunan norma susila dan norma kesopanan, namun juga memenuhi norma agama, atau dengan kata lain dalam rangka menaati perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam
  3. Hadits di atas, semakna dengan hadits riwayat Muslim, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
    رغمَ أنفُ ، ثم رغم أنفُ ، ثم رغم أنفُ قيل : من ؟ يا رسولَ اللهِ ! قال : من أدرك أبويه عند الكبرِ ، أحدَّهما أو كليهما فلم يَدْخلِ الجنةَ
    Kehinaan, kehinaan, kehinaan“. Para sahabat bertanya: “siapa wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup ketika mereka sudah tua, baik salah satuya atau keduanya, namun orang tadi tidak masuk surga” (HR. Muslim 2551)
  4. An Nawawi menjelaskan hadits Muslim ini: “Para ahli bahasa mengatakan bahwa raghima anfun maknanya kehinaan dan kenistaan, kemurkaan baginya dan ia pantas dipermalukan, yaitu dengan huruf ghain di fathah atau di-kasrah, huruf ra di-dhammah atau di-fathah atau di-kasrah. Kata ini makna aslinya: ‘dilempar hidungnya dengan righam’. Righam adalah pasir yang bercampur dengan kerikil. Sebagian ahli bahasa juga mengatakan bahwa ar ragham adalah segala sesuatu yang mengganggu jika mengenai hidung. Dalam hadits ini adalah anjuran untuk birrul walidain (berbakti kepada orang tua), dan penjelasan tentang betapa besar pahalanya. Artinya, berbakti kepada kedua orang tua ketika mereka sudah tua, dalam bentuk khidmah (bantuan fisik), atau nafkah, atau dalam bentuk lain, merupakan sebab untuk masuk surga. Barangsiapa yang lalai terhadap hal ini maka ia melewatkan kesempatan masuk surga dan ia juga mendapat kehinaan di sisi Allah” (Syarh Shahih Muslim, 1/85).
  5. Hadits ini juga menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah ladang pahala yang besar dan pintu masuk surga. Bahkan ada pintu di surga bagi orang-orang yang berbakti kepada orang tua. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
    الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك البابَ أو احفَظْه
    Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”).
  6. Bentuk durhaka kepada orang tua itu tidak mesti berupa perbuatan jahat, kasar atau kejam kepada orang tua, namun menyia-nyiakan mereka dan tidak berbakti kepada mereka juga merupakan bentuk durhaka kepada orang tua.
  7. Bisa mendapati kedua orang tua kita dalam keadaan hidup sampai mereka tua adalah sebuah kenikmatan besar.

Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

Larangan Terhadap Bid’ah Dalam Al Qur’an

Alhamdulillah washshalatu wassalaamu ‘ala nabiyyihi almukhtar min khalqihi muhammad wa ‘ala alihi wa as-habih wa man tabi’ahu ittiba-an shahihan ikhlashan.
Berbicara tentang bid’ah adalah berbicara tentang sesuatu yang membuat pusing sebagian orang. Artinya mereka begitu alergi dengan kata bid’ah. Perlu dipahami bahwa bid’ah adalah sebuah pembicaraan dalam agama seperti juga pembicaraan tentang syirik, maksiat dan lain-lain.

Bid’ah Tidak Pernah Dibahas Para Ulama?

Seorang mahasiswa LIPIA jurusan Syari’ah pernah menulis artikel dalam sebuah web yang menyatakan bahwa tidak ditemukan kata bid’ah dalam kitab fiqih yang ditulis para ulama. Ia juga merendahkan para ulama yang gencar melarang bid’ah. Ia menulis seolah-olah kata bid’ah bukanlah sebuah tema yang dibicarakan dalam Islam.
Aneh memang. Kitab-kitab yang bertebaran dalam perpustakaan LIPIA plus kemampuan berbahasa arabnya tak mampu memahami bahwa bid’ah adalah sebuah hal yang diwanti-wanti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak pertemuan beliau dengan para sahabat.
Semoga saja tulisan beliau tidak melecehkan ungkapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dengan kelembutannya menasehati umatnya dari bahaya bid’ah. Beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
« أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ »
Kemudian daripada itu, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Al-Qur’an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang baru dan semua bid’ah adalah kesesatan” (HR Muslim no 2042).
Dalam riwayat lain:
وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Dan semua perkara yang baru adalah bid’ah dan seluruh bid’ah adalah kesesatan dan seluruh kesesatan di neraka” (HR An-Nasaai no 1578).
Benar bahwa bid’ah bukanlah bagian dari hukum taklifiyyah yang terdiri dari wajib, mandub, mubah, makruh dan haram (lihat pembagian ini dalam Mulakhhash al-Fiqhiyyah al-Muyassarah (Min Hasyiyatu ar-Raudh wa al-Murabba’ wa Manaar as-Sabiyl), hal 11).
Namun bukanlah bermakna bahwa bid’ah adalah sebuah istilah yang kosong dalam kitab para ulama. Mereka, para ulama, banyak menulis tentang bid’ah dan berbagai kaidah yang berhubungan dengan bid’ah. Mereka pula mewanti-wanti kaum muslimin untuk menjauhi bid’ah karena adalah bid’ah sebuah larangan.

Larangan Berbuat Bid’ah Tidak Ada Dalam Al Qur’an?

Ada pula sebagian penulis yang menyatakan bahwa tidak ada larangan bid’ah dalam al-Qur-an. Padahal para ulama telah banyak ber-istinbath dari sebagian ayat-ayat al-Qur-an mengenai larangan bid’ah. Allah berfirman
قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْكَٰفِرُونَ ﴿١﴾ لَآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ ﴿٦
“1). Katakanlah: Hai orang-orang kafir 2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah 3). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah 4). Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah 5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah 6). Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku” (QS al-Kafirun 1-6)
Salah satu penjelasan Ibnu katsir dalam kitabnya tentang surat ini adalah:
تبرأ منهم في جميع ما هم فيه فإن العابد لا بد من معبود يعبده وعبادة يسلكها إليه فالرسول صلى الله عليه وسلم وأتباعه يعبدون الله بما شرعه ولهذا كان كلمة الإسلام لا إله إلا الله محمد رسول الله أي لا معبود إلا الله ولا طريق إليه إلا ما جاء به الرسول والمشركون يعبدون غير الله عبادة لم يأذن بها الله
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlepas diri dari segala hal yang ada pada mereka (dan apa yang mereka lakoni) karena sesungguhnya seorang hamba beribadah kepada sesuatu yang disembah dan seorang hamba pula menjalani sebuah ibadah menuju Allah. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikut beliau menyembah Allah dengan sesuatu yang memang Allah syariatkan. Inilah makna kalimat Islam yaitu tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah. Ini bermakna bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan pula tiada jalan yang ditempuh menuju Allah kecuali dengan segala hal yang dibawa oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam. Orang musyrik menyembah selain Allah sebagai sebuah ibadah yang tidak Allah izinkan/syariatkan.”( Tafsir al-Qur-an al-Azhiym, jilid 4, hal 3107)
Dalam surat lain, Allah berfirman:
يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج وليس البر بأن تأتوا البيوت من ظهورها ولكن البر من اتقى وأتوا البيوت من أبوابها واتقوا الله لعلكم تفلحون
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung” (QS al-Baqarah: 189.)
Salah satu ungkapan syaikh ‘Abdurrahman ibn Nashir as-Sa’diy mengenai ayat ini adalah:
وهذا كما كان الأنصار وغيرهم من العرب إذا أحرموا لم يدخلوا البيوت من أبوابها تعبدا بذلك وظنا أنه بر فأخبر تعالى ليس من البر لأن الله تعالى لم يشرعه لهم وكل من تعبد بعبادة لم يشرعها الله ورسوله فهو متعبد ببدعة وأمرهم أن يأتوا البيوت من أبوابها لما فيه من السهولة عليه التي هي قاعدة من قواعد الشرع.
“Dahulu orang Anshar dan arab lainnya, jika mereka melakukan ihram, mereka tidak memasuki rumah-rumah mereka melalui pintunya dalam rangka ibadah. Mereka menganggap bahwa hal yang mereka lakukan itu adalah sebuah kebaikan. Allah mengabarkan bahwa yang demikian itu bukanlah sebuah kebaikan karena Allah tidak mensyariatkan hal ini kepada mereka. Setiap orang yang menyembah Allah dengan sebuah ibadah yang tidak Allah dan Rasul-Nya syariatkan maka dia telah beribadah dengan sebuah kebid’ahan. (Dalam ayat ini) Allah memerintahkan mereka agar mereka memasuki rumah mereka melalui pintunya karena ini mengandung kemudahan bagi mereka yang merupakan salah satu kaidah dalam beragama.” (Lihat kitab beliau Tafsir Kariimir Rahman fiy Tafsir Kalaam al-Mannan, hal 87).
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain yang menjadi dalil terlarangnya bid’ah menurut para ulama.

Asrama LIPIA Jakarta, Rabu siang, 15 Shafar 1435 H/ 18 Desember 2013
____
Referensi:
  1. Al-Qur-an dan terjemahannya.
  2. Tafsiyr al-Qur-an al-Azhiym, jilid 4, hal 3107, penerbit Jami’atu Ihya-u at-Turats al-Islamiy, Kuwait
  3. Lihat kitab beliau Tafsir Kariimir Rahman fiy Tafsir Kalaam al-Mannan, hal 87, terbitan Dar Ibnu al-Jauziy, al-Mamlakah al-‘Arabiyyah as-Su’udiyyah.
  4. Mulakhhash al-Fiqhiyyah al-Muyassarah (Min Hasyiyatu ar-Raudh wa al-Murabba’ wa Manaar as-Sabiyl) karya ‘Imad ‘Ali Jum’ah, hal 11, terbitan Maktabah al-Malik Fadh, Riyadh.
Baca juga artikel: Apakah Anda Tidak Takut Berbuat Bid’ah?
______
Penulis: Fachriy Aboe Syazwiena
Artikel Muslim.Or.Id